“Halah! Ngardus aja kamu!” Elak bunda, “Cipta masuk sana, mandi, makan, besok sekolah?” tanya bunda, Cipta mengangguk menjawab bunda. “kamu juga, jangan contohin yang nggak baik sama anak, masuk sana!” Ujar Bunda lagi pada Ayah.
“Bun-“ Belum selesai perkataan ayah bunda segera memotong, “Aku nggak mempan ya sama gombalan murah kamu itu, masuk sana!” suruh bunda setelahnya berlalu pergi. Melihat nasib naas ayah, Cipta tertawa lepas, yang dihadiahi pelototan tajam oleh ayah.
***
Ayah bukannya tidak tahu bahwa Cipta sedang dalam tidak baik –baik saja. Cipta itu putranya, darah dagingnya, dirinya yang menimang Cipta sedari balita hingga Cipta sedewasa dan sebesar sekarang. Ayah pernah ada di posisi Cipta, kehilangan karena kematian itu menyakitkan, apalagi Jeje itu bukan hanya sekedar teman untuk Cipta, ayah tahu karena ayah sendiri selalu mengaggap Jeje adalah anaknya. Dan kehilangan anak atas kematian, bukanlah hal sepele untuk orangtua.
Melihat Cipta datang dan berlaku seperti biasanya bahkan dapat tertawa lepas cukup untuk Ayah mengukur betapa parah luka yang dialami oleh pangerannya. Cipta makan dengan lahap di hadapan bunda, lalu bercerita dengan tawa lepas di hadapan bunda, membuat Ayah paham, bahwa Cipta tak ingin bunda khawatir padanya. Cipta mungkin ulung dihadapan orang – orang dalam mengenakan topeng palsunya, tapi tidak didepan orang yang mengajarkannya memakai topeng itu agar terlihat sempurna.
“Cipta ke kamar ya bund, capek, ngantuk banget Cipta.” Pamit Cipta selepas makan malam yang dibalas oleh anggukan dan senyuman manis Bunda. Bunda tampak sibuk dengan kegaitan dapurnya, “Bun, Ayah nyusul Cipta bentar,” Ujar Ayah lalu pergi begitu saja.
Bunda paham, Cipta butuh waktu untuk menerima segala hal yang terjadi akhir – akhir ini, dan mungkin Ayah bisa jadi tempat Cipta bercerita, karena jika itu Bunda, Bundalah yang akan lebih dulu mengundang luka Cipta, sebab Bunda tak pernah tahan saat keluargnya terluka.
“Cipta,” panggil Ayah mengetuk pintu kamar Cipta, dari luar Ayah dapat mendengar suara isak tangis Cipta samar – samar.
“Cipta,” panggil Ayah sekali lagi, “Boleh ayah masuk?” tanya Ayah lembut.
“Sebentar yah,” Ujar Cipta, yang ayah yakini kini Cipta tengah susah payah menghapus Jejak air matanya dan wajahnya yang mungkin saja sembab sehabis menangis.
Cipta keluar dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya, “Kenapa yah?” Tanya Cipta.
“Boleh ayah masuk?” tanya Ayah sekali lagi, Cipta menggelangkan kepalanya tanda tak boleh Ayah memasuki kamarnya, “ada hiasan Jeje, kamar Cipta berantakan, Cipta beresin dulu ya yah,” Ujar Cipta yang segera ditahan oleh ayah, ingat bahwa Jeje ingin memberi kejutan pada putranya.
“Nggak usah, Cipta mau bicara sama ayah di halaman belakang?” tanya Ayah, jika Cipta tidak ingin, Ayah tidak akan memaksa.
Cipta diam sesaat, “Iya,” Ujar Cipta lalu mengikuti langkah Ayahnya menuju halaman belakang rumahnya, duduk di beranda sederhana buatan Ayahnya.
“Malam ini langit rame banget, kayaknya mau turun hujan,” komentar Ayah melihat begitu banyak bintang di langit.
“Dapat mitos darimana lagi sih Yah?” tanya Cipta heran pada Ayahnya yang terus saja percaya mitos. “Ini bener lo Cipta, waktu itu Jeje cerita sama Ayah gitu, dan gak lama bener turun hujan!” Sewot Ayah, Ayah dan Cipta itu Hate-Love sesungguhnya, tiap bertemu tak pernah damai, namun dibaliknya penuh Cinta tak terkira.