Rabu 11-08-2021,00:00 WIB

“Paan sih?!” sungut Cipta

“Gimana hari ini?” tanya Ayah, memandang Cipta.

“Baik, dan akan selalu baik!” Jawab Cipta, terselip nada getir pada suara Cipta, mata Cipta berkaca – kaca, kali ini pandangan Cipta jatuh kepada sepatu bekas Jeje yang tertinggal, Cipta tidak pernah tahu alasan, mengapa ayah tidak pernah membuang sepatu itu, sesak, apapun tentang Jeje, semuanya akan sesak oleh Cipta, Cipta merindukan Jeje.

“Cipta,” Seru Ayah mengikuti pandangan Cipta, “kematian itu takdir Cipta, kalo ditanya Jeje sekarang Ayah yakin Jeje sama terlukanya dengan Cipta, bahkan lebih, tapi semuanya udah diatur, kita Cuma bisa mengikuti alur.” Sambung Ayah. Ayah benar, namun Cinta tidak ingin medengar pembenaran saat ini, semuanya saat ini terasa begitu kacau, hatinya Hancur lebur, perasaannya kandas tak terisisa, ia layaknya buta dan tuli pada sekitarnya.

Tak perlu waktu lama hingga Ayah mendengar sebuah isakan lolos dari pangerannya, pangerannya akan selalu sama dimatanya, laki – laki kecil yang selalu akan menangis dihadapannya. Ayah tidak bersuara lagi setelahnya, ia dekap Cipta di dadanya, membirkan Cipta mengeluarkan segala keluh kesah yang ia tahan.

“Ayah…Cipta nggak bisa kehilangan Jeje,”

“Cipta-Cipta, Cipta pengen ketemu Jeje,”

“kenapa harus Jeje ayah?!”

Isakan Cipta terdengar menyayat, ramalan Jeje benar, bersamaan dengan tangis Cipta yang terus mengalir deras, malam itu rintik hujan turun pelan, seolah alam mewakilkan Jeje yang juga turut menangis. Lagi – lagi Cipta kembali membasahi lukanya, sedikit lagi untuk menggapai langkah bahwa ia akan baik – baik saja, Cipta kalah oleh masa lalunya yang tersisa pada penggalan hatinya. (*)

Bersambung

 

 

 

 

 

 

Tags :
Kategori :

Terkait