“Ayah mungkin jadi orang yang paling diam, diamnya bukan berarti tidak peduli. Ayah itu tugasnya mengamati, kalanya salah seorang dari buah hatinya atau belahan jiwanya membutuhkan sanggahan, Ayah akan tiba dan ada tepat pada waktunya.”
-Cipta
>>>>****<<<<
Malam sudah hampir menjemput, Cipta menghembuskan nafas lega, sejak pagi perutnya tidak terisi, tenggorakannya pun bahkan tak disusuri oleh air sedikitpun. Walau merasa keroncongan dan haus, Cipta berdiri dari duduknya, kali ini ia harus kembali ke rumah sebelum membuat Ayah dan Bundanya khawatir. Cipta menatap lekat tanah pemakaman, tempat terkahir sahabatnya Jeje pulang. Walau masih terasa sedih, Cipta akan berusaha terlihat baik – baik saja.
Jalanan yang Cipta lalui tampak lengang, tiap inci langkahnya menuju rumah, ia terus teringat tentang Jeje dan segala tingkah lakunya. Sahabatnya itu tak pernah diam, ada saja yang bisa ia lakukan, kadang prilakunya tak disangka – sangka, tiba – tiba menemui Cipta dengan mangga hasil curian tetangga sebelah yang super kikir, tiba – tiba menemui Cipta dengan selusin kerupuk udang, katanya tak tega melihat jualan seorang nenek – nenek yang sudah tua.
Cipta sampai di depan rumahnya, lampu teras di rumahnya menyala, walau temeram cukup untuk menerangi halaman depan rumahnya, jika lampu itu menyala artinya Ayah atau Bunda sudah pulang, bisa jadi keduanya memang menunggunya. Cipta memasuki rumah, walau dengan wajah sendu, Cipta berusaha terlihat seperti biasanya.
“Cipta pulang,” Teriak Cipta di depan pintu, dan detik itu juga Cipta melihat Ayah dan Bunda tergopoh – gopoh menemuinya.
Plak
Tamparan keras dari ayah mendarat mulus di bokong Cipta, “Heh! Dimana – mana itu kalo mau masuk rumah salam, bukan teriak Cipta pulang!” Omel Ayah dengan wajah sebal.
“Loh ayah sendiri kalo pulang pasti teriak AYAH PULANGG!!” tiru Cipta, serupa dengan yang ayah lakukan.
“tau gitu salah nggak usah dicontoh!” Debat ayah.
“Tau gitu salah, jangan dibuat biar nggak dicontoh sama anaknya!” potong bunda, sebelum Cipta menjawab.
“Kalian itu ya! Bisa nggak sih sehari aja nggak bikin kepala bunda pusing, kalian mau lihat bunda cepet tua?! Mau?!” tanya bunda kesal.
“Gimanapun bunda, untuk Cipta bunda cantik!” Ujar Cipta semangat.
“Ayah setia sama bunda kok, nerima bunda apa adanya, susah ataupun senang, muda maupun tua, asal sama bunda, ayah bahagia,” Ucap Ayah Jumawa, mendengar perkataan Ayah, Cipta memperagakan seolah dirinya muntah dan mual mendengar perkataan Ayah berbeda dengan bunda yang tampak bersemu merah namun tetap menyangkalnya.