Minggu 15-08-2021,00:00 WIB

Ginanja menyeblerasikan kebahagiannya dengan cara tersenyum pada setiap orang yang lewat di depan rumahnya. Senang sekali rasanya, saat pekerjaan yang harus ia kerjakan sendirian bisa mendapat bala bantuan. Ginanja bahkan sudah merancang apa saja pekerjaan yang akan Putri lakukan nanti, yang paling utama, Putri akan mendapat bagian memotong bawang, karena Ginanja benar – benar tidak bisa mengorbankan matanya lagi untuk selalu merasa perih dan mungkin saja karena bawang Ginanja tidak lama lagi akan buta. Walau terdengara berlebihan, seperti itulah perasaan Ginanja jika dijabarkan.

Ginanja melihat Bang Gangga keluar rumah, seperti biasanya Bang Gangga akan selalu keluar rumah setiap jam sepuluh pagi dan kembali ke rumah sewaktu adzan subuh berkumandang esoknya. Ginanja selalu penuh tanya pada apa yang dilakukan Bang Gangga di luar sana. Bukankah kehidupan Bang Gangga terlalu bebas, rumah hanya jadi tempat ia menumpang tidur saja. Dan mengapa pula Abang dan Kakak – Kakaknya tidak pernah melarang atau sekedar menasehati Bang Gangga.

“Abang, mau kemana?” tanya Ginanja pada Bang Gangga. Bang Gangga menatap Ginanja sekilas lalu berlalu begitu saja.

“Bukan urusanmu,”

Seperti biasa, setiap kali Ginanja bertanya, Ginanja akan selalu mendapat jawaban yang sama. Mengapa Bang Gangga begitu tidak menyukai Ginanja, memangnya Ginanja pernah salah apa pada Bang Gangga hingga Bang Gangga terlihat begitu tidak menyukainya. Ginanja ingin bertanya, namun lagi – lagi Ginanja harus dibungkam oleh nasehat Ayah tentang jangan mengusik suadara yang lebih tua darinya, sebagai adik Ginanja harus patuh, jikapun tidak berkenan Ginanja tidak boleh marah begitu saja, karena jika bukan Ginanja, siapa dari mereka yang akan tetap menjaga tali persaudaraan itu agar tetap terhubung.

Ginanja tersenyum masam, “Ginanja salah apa sih bang? Kan Ginanja cuma nanya, nggak dijawab pun nggak apa – apa.” Ujar Ginanja pelan pada Bang Gangga.

Bang Gangga melirik Ginanja yang wajahnya tengah tertekuk tidak senang, “Tau nggak bakal dijawab, nggak usah nanya sekalian bisa.” Sarkas bang Gangga pada Ginanja, Ginanja cukup kesal, namun dirinya menelan kekesalan itu bulat – bulat, demi tuhan, bolehkah Ginanja memukul Bang Gangga satu kali saja?

“Ya sudah, hati – hati di jalan bang.” Pasrah Ginanja yang tidak sama sekali digubris oleh bang Gangga. Dalam hatinya, Ginanja tersenyum culas, lagi – lagi dirinya merasa salah tanpa tahu apa yang patut disalahkan darinya. (*)

Bersambung

 

 

Tags :
Kategori :

Terkait