“Pakde itu suka sekali mengusuli Ginanja, mentang – mentang Bude istrinya, kalo Ginanja mau ketemu Bude, banyak sekali perintah Pakde.” Adu Ginanja yang dibalas tawa oleh Bude Nora.
“Wajarlah, Pakde kamu itu memang sering begitu.”
“Tetap saja, Ginanja tidak suka.” Jika mengingat Pakde dan perlakukannya, Ginanja kesal setengah mati. Walau Pakde tidak pernah serius, tetap saja prilaku Pakde itu tidak menyenangkan dan selalu menyengsarakan Ginanja. Contohnya saja, pernah sekali sehabis sholat Isya di Mushola, Pakde dengan pedenya merangkul Ginanja. Awalnya Ginanja berpikir Pakde sedang dalam suasana hati yang baik, jadi tidak mungkin akan menjahili Ginanja. Namun, hal itu pupus sudah kala Pakde dengan sengaja menarik sarungnya dan tampaklah celana boxernya yang bergambar bunga – bunga. Ginanja malu setengah mati, ingin rasanya mengilang dari bumi saat itu juga, namun tidak bisa.
Sedang Pakde tertawa puas melihat Ginanja, dan berlari setelahnya masih dengan tawa yang begitu kencang. Hal itu adalah satu dari sekian banyak kejahilan Pakde pada Ginanja, belum Ginanja ceritakan yang lain, dan satu hal yang akan selalu Ginanja ingat, semakin baik dan bagus suasana hati Pakde semakin sengsara Ginanja. Dari jarak radius lima meter, jika kalian melihat Pakde dengan senyum andalan bersama kumis berantakannya, maka ingatkan Ginanja untuk menjauh satu kilometer lebih dulu.
“Sudah sampai disini saja, antarkan saja makanan mbak-mu. Sudah sana!” Suruh Bude Nora pada Ginanja.
“Tapi—Bude,” Belum sempat Ginanja mengelak, Bunda Nora sudah melengos lebih dulu, “Bude tidak apa – apa. Pergilah!” Ujar Bude yang membuat Ginanja mau tak mau tersenyum, akhirnya Ginanja memutar arah dan menuju kebun dimana Mbak Senja berada.
***
Ginanja menyiapkan makan siang Mbak Senja di pandopo kebun, pandopo itu tampak kokok walau sudah tua. Dari pandopo, Ginanja dapat melihat kedatangan Mbak Senja, namun yang membuat Ginanja heran, tidak ada Putri di sisi Mbak Senja.
“Udah lama datangnya?” Tanya Mbak Senja kala melihat Ginanja, Ginanja menggeleng, “Nggak kok Mbak, baru aja selesai.” Jawab Ginanja. Mbak Senja pergi sebentar meninggalkan Ginanja untuk mencuci tangannya, selagi Mbak Senja bersih – bersih, Ginanja menunggu Putri. Namun, hingga Mbak Senja duduk di hadapannya dan bersiap untuk makan, Putri tak kunjung muncul.
“Kenapa nggak makan dek?” tanya Mbak Senja pada Ginanja yang tidak biasanya tidak menyentuh makanan. “Nunggu Putri Mbak,” Jawab Ginanja.
“Putri?” Bingung Mbak Senja. “Ngapain kamu nunggu Putri? Putri masih disekolahnyalah. Kalo pulang pun pasti nanti ke rumah.” Jelas Mbak Senja.
“Putri nggak kesini emangnya mbak?” Tanya Ginanja, “Enggak Ginanjaa… Putri masih sekolah!” Jawab Mbak Senja kesal pasalnya Ginanja bertingkah aneh dengan menanyakan Putri yang jelas saja masih di sekolah. “Udah, ayo makan!” Suruh Mbak Senja.
Ginanja menuruti perkataan Mbak Senja, namun dibenaknya penuh tanya. Jika Putri tidak ke kebun bersama Mbak Senja, lalu kemana Putri? Tidak biasanya Putri pergi tanpa seizinnya. (*)
Bersambung