Sesampainya di pasar, Ginanja cukup beruntung dengan adanya Bu Ratna, pemilik toko kelontong besar di pasar yang cukup dekat dengannya. Bu Ratna menawari Ginanja untuk menjadi ojek seharinya, sebab Bu Ratna harus bepergian dari satu toko ke toko lainnya, mengecek barang dan keuangan di setiap toko miliknya dan kebetulan suami Bu Ratna memiliki urusan hingga tak bisa mengantar-jemput Bu Ratna.
“Gimana Ginanja? Mau nggak? Ibu bayar tiga puluh rima ribu hari ini, sampe sore aja kok.” Tawar Bu Ratna. Ginanja langsung menangguk setuju, “Mau dong bu.” Terima Ginanja, “Kapan berangkatnya bu?” Tanya Ginanja lagi setelahnya. “Sekarang.” Jawab Bu Ratna.
Ginanja mempersilahkan Bu Ratna menaiki motornya—tidak tepatnya motor Ayah yang tengah Ginanja Pinjam—Setelah memastikan Bu Ratna duduk dengan posisi ternyaman, Ginanja melajukan motornya menuju tujuan pertama mereka.
Bu Ratna termasuk orang yang sangat ramah, selama di perjalanan tak sekalipun Bu Ratna mendiamkan Ginanja, banyak hal yang diceritakan Bu Ratna dan ditanyakannya pada Ginanja. Misalnya saja tentang harga Cabe yang terus saja naik atau sekedar peraturan pemerintah yang tak disukai olehnya, Bu Ratna sangat luas dalam menyampaikan pendapatnya, terutama mengenai isu – isu yang sedang panas saat ini, dari tangkat RT hingga internasinal Bu Ratna akan selalu update perihal informasi dan berita, jika ditanya mengapa bisa ia mengetahui segalanya, Bu Ratna hanya akan bilang bahwa ia perlu itu untuk bahan gosip bersama para pelangannya, katanya lebih baik membahas hal seperti itu dibanding mengurusi kehidupan tetangganya yang sudah punya anak berapa, suaminya dimana, atau mengapa tiba tiba bisa menjanda, tidak ada manfaatnya. Sebab itu Bu Ratna mengajak pelangganya untuk bergosip ke ranah yang memiliki nilai, tidak hanya buang kata – kata dan tenaga saja, setidaknya percakapan yang dibangun dapat membuat para pelanggan Bu Ratna kembali memikirkan bagaimana nasib bangsanya ke depan.
“Ibu tu prihatin banget sama remaja jaman sekarang, belum apa – apa udah banyak aja tingkahnya. Orangtua jaman sekarang juga buat ibu nggak habis pikir Ginanja, bisa – bisanya mereka nggak ambil pusing sama tingkah anak mereka, kebebasan bukan berarti liar!” Ucap Bu Ratna di boncengan Ginanja dengan nada menggebu terkait permasalahan pergaulan remaja jaman sekarang. Maraknya kasus yang menyangkut remaja sebagai korban juga pelaku utamanya, membuat Bu Ratna panas, mengapa keadaan negerinya lama kelamaan begitu memprihatinkan.
“Itu kamu liat, masih kecil juga udah berani pelukan gitu di depan umum, nikah aja belum, masih sekolah juga!” Tunjuk Bu Ratna pada sepasang anak SMP yang tengah berpelukan di atas motor. Ginanja menatapnya dengan sedikit miris, perkataan Bu Ratna ada benarnya.
“Ibu itu bukan melarang anak muda buat senang – senang. Cuma, yang namanya senang itu ada batasnya. Bebas bukan berarti lepas, tetap ada aturan yang harus meraka patuhi, minimal mereka tahu batasan diri mereka, kalo kecil saja sudah begitu bagaimana besarnya? Mau jadi apa bangsa dan negara ini kedepannya jika generasinya saja sudah tidak terdidik. Dimana etika dan sopan santun terdahulu yang diajarkan kepada kita ini, sedih sekali pahlawan kita, memerdekan bangsa susah payah, malah dibalas dengan kehancuran yang sudah di depan mata!” Bu Ratna terus saja berucap diplomatis melihat keadaan sekitarnya yang sungguh prihatin. Ginanja mendengarkan Bu Ratna, sesekali dirinya tersenyum kecil melihat betapa bersemangatnya Bu Ratna mengatakan seluruh isi hatinya. Mungkin jika saat ini Bu Ratna hidup di era penjajahan atau era menuju kemerdekaan, maka Ginanja yakin Bu Ratna akan menjadi salah satu sosok wanita yang memperjuangkan bangsanya mati - matian, yang namanya akan dicatat dalam sejarah Indonesia, pahlawan wanita tanah air tumpah darah Indonesia.
Pidato diplomatis terus berujar sepanjang hari hingga mereka tiba di tujuan akhir mereka, saat tiba hari sudah menjelang sore. Pasar juga sudah telihat sepi, tinggal beberapa lagi yang tanggung untuk pulang sebab dagangan mereka hanya tinggal sedikit lagi. Ginanja mengenal beberapa dari mereka, biasanya merekalah yang memberi Ginanja sebuah pekerjaan serabutan seperti Bu Ratna saat ini.
“Ginanja, ini uangnya,” Ujar Bu Ratna sembari memberi pecahan uang sepuluh ribu sebanyak empat lembar, “uangnya lebih bu,” Ingat Ginanja pada Bu Ratna. Bu Ratna tersenyum melihat kejujuran Ginanja, “Ambil saja, ucapan terimakasih saya karena mau mendengarkan saya sepanjang hari.” Setelahnya Bu Ratna meninggalkan Ginanja begitu saja, sedang Ginanja tengah berucap syukur karena uang sejumlah empat puluh ribu yang ia terima lebih dari cukup untuknya.
Tujuan pertama Ginanja menuju kota usai, kini Ginanja berniat ingin menunaikan tujuan kedunya, menemui pujaan hatinya.
Tunggu Ginanja, Sarah! Pujaan hati akan segera tiba! (*)
Bersambung