“Mau makan apa?” Tanya Ginanja pada Sarah yang juga masih melihat – lihat.
“Enaknya makan apa ya?” Bingung Sarah melihat banyaknya pedagang, ingin rasanya mencicipi segalanya, namun Sarah cukup tahu diri untuk tidak terlalu banyak meminta pada Ginanja. Sebenarnya, bisa saja Sarah membeli apa yang ia inginkan dengan uang yang ia miliki, namun bagaimana perasaan Ginanja nantinya? Sarah tidak ingin menghancurkan malamnya bersama Ginanja, apalagi mereka jarang bertemu, sebab jarak kota dan kampung Ginanja bukanlah jarak yang dapat ditempuh dalam waktu singkat.
“Makan Sate aja yuk!” Ajak Sarah setelah menimang – nimang apa yang ingin ia makan, Ginanja menangguk dan mengajak Sarah ke warung sate yang baru saja buka, sepertinya Sarah dan Ginanja adalah pelanggan pertama warung sate tersebut.
“Pak, satenya dua ya!” Pesan Ginanja, Sarah tersenyum melihat Bapak Penjaga Warung Sate tersebut begitu cepat membuat pesanan mereka, tak perlu menunggu lama, dua porsi Sate segera terhidang di hadapan Ginanja dan Sarah.
“Enak banget!” Puji Sarah sambil memakan tusuk satenya, Ginanja yang melihat Sarah begitu menikmati satenya, memberikan tusuk sate sisanya untuk Sarah. “Makan yang banyak, pasti capek ngurus galerinya kan.” Suruh Ginanja yang diangguki riang oleh Sarah.
Sarah masih belum sadar jika Ginanja memberikan seluruh tusuk satenya di piringnya. “Eh-kok rasanya tusuk satenya banyak banget ya?” Bingung Sarah saat dirinya sudah selesai memakan seluruh tusuk satenya. Sarah menatap piring Ginanja yang juga sudah habis, namun hanya memiliki satu tusuk sate bekas yang membuat Sarah sadar bahwa Ginanja memberikan bagiannya pada Sarah.
“Kamu-” Belum lengkap Sarah menyelesaikan kalimatanya, Ginanja memotong perkataan Sarah, “Kamu makan lahap banget, aku jadi gemes liatnya.” Ujar Ginanja dengan senyum gemas melihat Sarah.
“Apaan sih!” Sungguh Sarah tidak bisa dipuji oleh Ginanja, sebab pujian Ginanja cukup berefek besar padanya dan akibar dari efek itu, Sarah akan selalu salah tingkah. Selain itu, secara tiba – tiba, suhu di sekitar Sarah akan berubah secara drastis, lebih terasa panas, hingga wajahnya memerah.
“Cie…salah tingkah, baru dipuji gitu!” Goda Ginanja, “Siapa yang salah tingkah sih!” Elak Sarah, karena tidak tahan melihat betapa imutnya Sarah dengan tingkah lakunya itu, Ginanja mencubit keras pipi Sarah. Pipi Sarah yang sudah merah karena salah tingkah semakin memerah karena ulah Ginanja.
“Ginanja, Sakit tau!” Protes Sarah setelah Ginanja melepas cubitannya, Sarah mengusap – usap pipinya dengan cemberut kesal. “Maaf, tapi aku nggak bisa tahan liat yang gemes – gemes, bawaanya pengen cubit.” Ujar Ginanja jumawa, semakin gemas melihat Sarah yang terus menggerutu. Apapun yang dilakukan Sarah, dimata Ginanja semuanya tampak sempurna. Pepatah tentang cinta itu buta, ternyata benar adanya.
“Sarah,” Panggil Ginanja.
“Apa?!” Jawab Sarah masih dengan nada kesal yang begitu kentara. Tingkah kesal Sarah terlihat semakin imut dimata Ginanja, ingin rasanya ia museumkan Sarah, bagaimana bisa ada perempuan seimut Sarah, Ginanja benar – benar tak habis pikir.
“Jika kedepannya kita masih bisa bersama, kamu harus tau bahwa saat itu aku benar – benar bersyukur dapat memiliki kamu. Namun Jika tidak, tidak apa – apa, karena pernah melangkah bersama kamu saja, aku sudah merasa sangat bahagia.”
“Ginanja-”
“Sarah, apapun keadaannya nanti jangan kecewa, karena yang hadir belum tentu menjadi takdir. Sedang yang singgah bukan berarti ia tak bisa tetap untuk selamanya. Janji sama aku kalo kamu bakal selalu bahagia.” Ginanja memberi kelingkingnya pada Sarah, Sarah menatap Ginanja dengan senyum masam karena perkataannya yang membuat Sarah berpikiran macam – macam. Namun, tak urung Sarah juga mengulas senyum kecil di wajahnya karena tindakan Ginanja.
“Janji lebih dulu sama aku, kalo kamu nggak bakal ninggalin aku.” Ujar Sarah yang dibalas anggukan mantap oleh Ginanja.