Kamis 19-08-2021,00:00 WIB

“Tidak usah kaya, cukup sederhana saja. Tidak perlu mewah, cukup apa adanya saja. Sebab yang istimewa itu bukan ia yang datang memberi kebahagiaan, melainkan ia yang datang menawarkan langkah untuk berjalan bersama, menjemput kebahagian yang sama.”

-Dari Sarah Untuk Ginanja

>>>***<<<

Namanya Sarah, Asarah Sastrawijaya. Perempuan keturunan Cina – Melayu pemilik hati Ginanja. Sarah itu perempuan ibu kota yang hidupnya sungguh luar biasa, di usianya yang masih sangat muda, 20 tahun. Sarah sudah menjadi seniman yang memiliki galeri sendiri, walau Galeri yang dimiliki Sarah tidak besar, namun peminat lukisannya cukup luas hingga ke luar kota.

Galeri milik Sarah tidaklah jauh dari pusat kota, tempatnya begitu indah. Mungkin karena posisi letak Galeri Sarah yang begitu pas dan strategis menjadi salah satu daya tarik orang – orang mengunjunginya. Galeri Sarah jauh dari jalan raya, hingga tidak ada suara berisik yang menganggu ketenangan orang – orang yang ingin menikmati waktunya, dan gang tua yang dilalui agar sampai di Galeri Sarah, Sarah hiasi dengan beberapa lampu cantik dan lukisan dinding dengan panorama yang begitu indah, hingga mata tak bosan memandangnya. Sarah begitu pintar merubah keadaan dan suasana yang tadinya tak bernilai menjadi hal yang memiliki kualitas dengan nilai seni tinggi.

Biasanya jika sudah jam lima Sore, Sarah akan menutup galerinya dan berjalan menuju halte bus untuk pulang kerumahnya, katanya demi mengurangi polusi di dunia ini, lagipula tidak ada salahnya mengalah menaiki transportasi umum. Menaiki bus cukup menyenangkan katanya, menyaksikan bagaimana hiruk pikuknya kehidupan jalanan kota dan bertukar sapa dengan orang – orang yang ia temui sepanjang perjalanan pulangnya.

Ginanja sengaja menunggu Sarah tepat di ujung gang tua, dari jarak Ginanja berdiri saat ini, Ginanja dapat melihat Sarah dengan hijab warna hijaunya yang tengah berjalan, mungkin Sarah akan sedikit terkejut mendapati Ginanja menunggunya.

“Sarah,” Panggil Ginanja melambaikan tangannya, Ginanja dapat melihat arah pandang Sarah yang mencari suaranya dan tepat saat tatapan Ginanja bertemu dengan Sarah, Ginanja dapat melihat senyuman lebar terpatri di bibir Sarah.

“Ginanja,” Panggil Sarah, “Udah lama disini?” Tanya Sarah semangat masih dengan senyuman lebarnya, yang dibalas kekehan oleh Ginanja. “Enggak, barusan aja.” Jawab Ginanja.

“Mau ngapain kesini?” Tanya Sarah lagi.

“Menurut kamu?” Tanya Ginanja balik.

Sarah menyatukan alisnya tanda tak mengerti atau tepatnya ia tak menemukan alasan mengapa Ginanja ada disini bersamanya, mau berkata menunggunya, Sarah tidak ingin terlalu percaya diri, takutnya, kenyataan tak sesuai harapannya, bikin sakit hati saja.

“Apa?” Tanya Sarah, “Ayo katakan!” Desak sarah lagi yang dibalas dengan tawa pelan oleh Ginanja.

“Ya apa lagi selain hendak bertemu pujaan hati, Asarah Sastrawijaya.” Jawab Ginanja yang dihadiahi pelototan dan pukulan ringan oleh Sarah. Bukannya Sarah tidak suka jawaban Ginanja, hanya saja, Sarah malu mendengarnya. Ditambah lagi, Ginanja menyebutnya dengan sebutan pujaan hati, perempuan mana sih yang tidak salah tingkah jika disebut seperti itu?!

***

Tags :
Kategori :

Terkait