“Selamat ulang tahun Serena, semoga tua hari ini tidak lagi sama seperti tua kemarin. Jangan menyimpan luka yang sama, dan bahagialah dengan cara yang berbeda”
-Ginanja
>>>***<<<
Serena ada di dalam bus kota, kepergiannya ke kota bukan untuk kabur apalagi meninggalkan Nenek Rinaya. Serena hanya rindu, ia rindu pada orang yang telah membuangnya tanpa pernah menjenguknya sekalipun. Dalam benaknya, Serena bertanya – tanya, apakah kedua orang itu masih mengingatnya. Dalam diamnya, Serena ingin menangis keras, namun diurugkannya sebab seluruh air matanya terkuras sepuluh tahun lalu untuk mereka, dan tidak boleh ada lagi air mata yang keluar darinya untuk mereka.
Ini perhentian terkahir bus Serena, Serena sampai di tempat tujuannya. Padahal belum terlalu Sore, namun langit tampak gelap. Sinar matahari tidaklah lagi seterik saat ia bersama Ginanja tadi, awan hitam bergelung seiring langah Serena seolah mereka memang sengaja mengiri langkahnya. Kaki jenjang Serena berjalan perlahan, menyusuri jalan kenangan yang kembali menggoreskan luka di hatinya, hingga Serena berhenti disebuah rumah megah yang menulang tinggi bak istana.
Serena tidak berniat sama sekali menghampiri mereka yang bernaung di dalamnya, Serena hanya menuntaskan rasa rindunya untuk terakhir kalinya dan membiarkan lukanya kembali basa sebelum ia biarkan luka itu menutup sempurna dan melupakan segalanya. Tuhan, seolah tak tanggung – tanggung memberikan Serena rasa sakit hari ini, disana, didalam rumah bak Istana tersebut, Serena dapat melihat orangtuanya tengah bermain dengan putri kerajaan yang baru.
Dulu mama dan papanya selalu berkata bahwa Serena adalah satu – satunya putri di kerajaan mereka, Serena akan menjadi satu – satunya orang yang mendapatkan cinta mereka. Dan hari ini, mereka mengingkari sendiri perkataan mereka, disana mereka berbahagia dengan senyuman dan canda tawa tiada habisnya sedang Serena meratapi lukanya yang kini semakin basah, Selena menangis, air matanya jatuh, bukan karena ia merasa sakit dihatinya, melainkan ia bahagia, karena sekarang dirinya bebas dari belenggu luka yang menyergapnya, detik ini, Serena akan menerima bahwa memang benar dirinya dibuang, apapun alasaanya, Serena akan berhenti mencari alasan itu. Lukanya ia selesaikan disini, penantiannya berakhir disini, setelahnya ia akan menjalani hidupnya seperti semula, memenuhi hari – harinya dengan rasa bahagia tanpa air mata setiap malamnya. Serena berbalik pergi, selama tinggal luka, selamat tinggal bahagia yang pernah lalu, selamat tinggal dan jangan pernah lagi berjumpa.
***
“Ayo Pulang!”
“Ayo Pulang!”
Perkataan Serena terus menghantui Ginanja, seolah ada makna tersembunyi di dalam perkataan Serena tersebut. Hari sudah malam, Ginanja duduk di tepi jendelanya berpikir mengenai Serena. Ginanja tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sedari tadi, benaknya tidak henti memikirkan Serena sejak perpisahannya dengan Serena siang tadi. Ginanja menghembuskan nafasnya lelah, diluar sana awan hitam menggelung tanda tak lama lagi hujan lebat akan segera turun. Sesekali kilat juga menyambar cepat. Ginanja memutuskan untuk menutup jendelanya sebelum hujan turun, namun keberadaan Nenek Rinaya yang tengah terduduk di teras rumahnya membuat perasaan Ginanja terganggu, sedang apa Nenek Rinaya disana?
Ginanja memutuskan untuk menghampiri Nenek Rinaya sekaligus menemui Serena untuk menenangkan pikiran dan hatinya, Ginanja cepat – cepat menggunakan kaosnya dan berjalan ke luar rumah, namun dirinya lebih dulu dicegat oleh Mbak Senja.
“Mau kemana? Entar lagi hujan lebat.” Ujar Mbak Senja pada Ginanja.
“Mau ketemu Serena.” Jawab Ginanja terburu – buru segera meninggalkan Mbak Senja yang menatap Ginanja dengan raut bingung.
“Nenek,” Panggil Ginanja pada Nenek Rinaya yang terduduk di kursi teras rumahnya, Ginanja dapat melihat raut wajah cemas di wajah Nenek Rinaya.