Kamis 26-08-2021,00:00 WIB

“Kenapa nggak tidur?” tanya Serena.

“Lagi nungguin dedemit berhenti nangis, suaranya ganggu buat tidur.” Jawab Ginanja asal. Dari seberang sana Ginanja mendengar suara kekehan Serena, level humor Serena patut dipertanyakan, apa yang lucu dari perkataanya?

“Ginanja,” Panggil Serena dari seberang Sana.

“Hmm?”

“Hari ini ulang tahun Serena, boleh Serena minta kado?”

“Apa?”

“Janji bakal ngabulin apa yang Serena minta?”

“Jangan pernah pergi dari Serena,”

***

Serena tahu permintaannya terlalu berlebihan kepada seorang Ginanja, selepas Serena menyebutkan permintaanya Serena hanya mendapati kediaman panjang dari Ginanja, tidak ada balasan yang ia dapatkan, Serena seharusnya tahu diri untuk tidak meminta lebih dari seorang Ginanja, apa yang ia harapkan, memiliki Ginanja seutuhnya saat tahu Ginanja tidak akan pernah menjadi miliknya.

Jangan pernah pergi dari Serena,”

Serena terlalu egois menginginkan Ginanja hanya untuknya, sedang Ginanja sendiri memiliki Sarah dalam hidupnya. Serena hanya tidak ingin ditinggalkan lagi, selain Nenek Rinaya, hanya Ginanja yang ia miliki, hanya Ginanja yang menerima segala hal tentang dirinya, salahkah Serena jika dirinya menaruh harapan lebih pada Ginanja?

Serena tidak lagi mendapati suara Ginanja, sunyi panjang yang terjadi di antara mereka menjadi jawaban jelas untuk Serena, bahwa Ginanja tidak akan pernah bisa memenuhi permintaannya. Disaat – saat seperti ini Serena begitu benci mengenal Sarah, Ginanja tidak akan pernah mengenal Sarah jika saja Serena tidak pernah ingin menemui anak – anak kota yang datang ke kampungnya.

“Serena,”

Deg

Ginanja belum mengakhiri sambungan telepon yang terhubung diantara mereka. Detak jantung Serena berdetak begitu cepat, bertalu – talu hingga Serena merasa tak lama lagi jantungnya akan jatuh ke perutnya, Serena meramas sisi pakaian yang ia kenakan, gugup menunggu jawaban Ginanja.

Tags :
Kategori :

Terkait