Senin 01-11-2021,00:00 WIB

“Chana,” Tepukan Mattew menyadarkan Chana dari lamunannya, mengingat kejadian yang terjadi beberap menit lalu sebelum dirinya terjebak berdua di dalam mobil Mattew. Chana tampak tertekan walau tak kentara, “What’s wrong babe?” Chana tersenyum sumir mendapati pertanyaan dari Mattew. Pria keturuan Jawa-Belanda ini tak pernah berubah sejak pertemuan pertama mereka, selalu penuh perhatian.

Nothing,” jawab Chana pelan mengelus rahang tunangannya lembut, memberikan afeksi menenangkan pada lawan jenisnya tersebut. Chana menatap lamat Mattew, tunangannya tampan dengan alis camar yang tebal dengan warna kulit cerahnya, bahkan mata biru Mattew memberikan kesan yang dalam untuk terus Chana selami, salah satu hal yang paling Chana kagumi dari seorang Mattew.

Wajah Ibram terbisit di benak Chana, secara tak langsung membandingkannya dengan Mattew. Ibram tidak memiliki warna kulit secerah Mattew, atau mata sebiru tunananngnya, jika diberi pilihan tentang ketampanan, Ibram tentu saja ada satu peringkat di bawah Mattew, itu menurut Chana. Namun, pria dengan kulit tan seperti Ibram tampak manis, dengan warna mata karemel menggoda, tidak hanya mata, setiap inci wajah Ibram selalu mampu memporak porandakan logika Chana, bahkan bibir tipis Ibram terkadang menjadi goodaan paling besar untuk tidak Chana hadiahi dengan ciuman brutal, memberikan kecupan hangat yang sedikit liar dengan rasa manis dan tawar di setiap belitannya.

“Kau tidak pintar untuk berbohong,” Chana terkekeh pelan mendengar pertanyaan Mattew, “Apakah aku tampak berbohong?” Mattew menganggukan kepalanya, mengusap pelan kepala Chana.

Mattew memuluk Chana, sejujurnya, Chana tidak pernah nyaman dengan interkasi yang intim seperti yang sering Mattew lakukan padanya, Mattew selalu membuanya merasa risih, namun Chana tidak pernah mengatakan itu langsung pada Mattew. Chana tidak ingin menyakiti perasaan Mattew, karena Mattew adalah satu – satunya orang yang bertahan disisinya saat semau pergi meninggalkannya. Perlahan, jarak antara Chana dan Mattew mengikis seiring menit yang berlalu, hingga Chana dapat mencium jelas aroma parfum Mattew yang selalu menyengat indra penciumannya, jika aroma Ibram membuat Chana candu, tidak dengan Mattew yang selalu membuat kepalanya pusing.

Kening Chana dan Matte bertemu, sapaan benda lembut nan basah menabrak bibir Chana pelan. Tidak ada pergerakan apapun baik dari Chana maupun Mattew, Chana tidak tahu sejak kapan, tangannya melingkar sempurna pada leher Mattew, mengajukan diri secara suka rela masuk ke dalam perangkap yang Mattew buat. Pelan – pelan, Chana mamupu merasakan lumatan pelan dari Mattew berubah menjadi tuntutan nafsu. Chana menangis, bukankah kini dirinya tampak seperti wanita rendahan yang mudah menjual diri? Chana tak lagi dapat mengais harga dirinya yang kini hancur menjadi remah tak berguna, perasaan sedih mengukungnya terus menerus, menyuruhnya untuk tetap tinggal selamanya. Untuk hari ini saja, Chana ingin bebas dari sebuah kunkungan yang terus membelit dirinya, membuatnya terus merasa tercekik dan sesak.

Pada setiap kecupan dan sapuan intens Mattew padanya, Chana selalu memikirkan Ibram. Ibram yang menatapnya lembut, Ibram yang menyebalkan, Ibram dan terus Ibram. Membayangkan Ibram lah yang tengah bersamanya, bukankkah Chana terlalu kotor untuk disebut sebagai manusia?

Ibram memang manusia bajingan, namun Chana tidak akan pernah menyesali pertemuannya dengan bajingan yang kini menyandang titel mantan kekasihnya tersebut. Chana tidak akan pernah merasa rendah di depan Ibram, bagaimana gugupnya laki – laki tersebut menggenggam tangannya atau ekspresi malu – malu Ibram saat memeluknya. Mattew boleh menjadi yang paling menguasai Chana kini, namun hati Chana terikat mati pada Ibram. Karena hanya Ibram yang bisa memenuhi apa yang ia butuhkan.

Chana pikir dua tahun semaunya akan baik – baik saja. Waktu akan menyembuhkan setiap lukanya, memberikan penawar pada setiap rasa sakitnya. Sayangnya Chana keliru, waktu bukanlah jawabannya. Waktu membuatnya kian terasa jauh lebih rumit dan terus membuat setiap hari yang dilalui Chana semakin menyakitkan.

Ini semua terasa memuakkan! (*)

Bersambung

 

 

 

 

 

Tags :
Kategori :

Terkait