JAMBI EKSPRES EPAPER

Jangan Ukur Sukses Digital Pendidikan dari Hari Peluncuran

Jangan Ukur Sukses Digital Pendidikan dari Hari Peluncuran

Prof. Akhmad Habibi, S.Pd.I., M.Pd., Ph.D. --

JAMBIEKSPRES.CO.ID – Pengadaan perangkat dan platform digital belum menjamin pendidikan yang adil. Pesan itu disampaikan Prof. Akhmad Habibi, S.Pd.I., M.Pd., Ph.D. dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Teknologi pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Jambi, Senin (12/10/2026).

BACA JUGA:Penilaian Mempertahankan Akreditasi Paripurna, RSUD Raden Mattaher Siap Jadi Rumah Sakit Rujukan Lintas

Dalam orasi bertajuk “Teknologi Pendidikan untuk Keadilan Digital”, Habibi menyebut ketimpangan digital di Indonesia berlapis: akses, dukungan, literasi, dan etika. “Perangkat datang lebih cepat daripada kesiapan guru, kebijakan lebih cepat daripada infrastruktur, dan antusiasme lebih cepat daripada bukti,” ujarnya.

BACA JUGA:Pengguna Fitur Antrian Daring Sentuh Tanahku: Bisa Urus Tanah Tanpa Cuti

Menurutnya, teknologi pendidikan bukan ilmu merawat perangkat, melainkan ilmu tentang bagaimana manusia belajar dengan mediasi alat, serta bagaimana kebijakan memastikan inovasi tidak memperdalam ketidakadilan.

BACA JUGA:Istri Bacok Suami Pakai Parang, Korban Alami Luka hingga 50 Jahitan

Lulus Tes Belum Tentu Mengajar dengan Teknologi.

Orasi bertumpu pada tiga poros: TPACK, penerimaan teknologi, dan kecerdasan buatan (AI). Pada poros pertama, Habibi memaparkan temuan di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) bahwa skor pengetahuan TPACK tidak otomatis menjadi praktik integrasi teknologi saat mengajar. Niat dan perilaku calon guru lebih dipengaruhi keyakinan, norma subjektif, dan persepsi kendali. “Lokakarya sekali jalan menghasilkan ilusi kompetensi, bukan kebiasaan,” katanya.

BACA JUGA:Feriadi Ditunjuk Jadi Plt Kadis Perindag Gantikan Nella Ervina yang Tersandung Kasus Korupsi

Yang dibutuhkan, lanjutnya, adalah ekosistem: tugas autentik, guru pamong yang menjadi teladan, infrastruktur memadai, termasuk skenario saat listrik padam atau jaringan terputus, serta penilaian yang menghargai desain pembelajaran digital. Ia mendorong Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Jambi menjadi laboratorium TPACK.

BACA JUGA:Bank Jambi Raih Penghargaan Best Performance-Bank BPD (Sumatera–Kalimantan)

Ukur dari Bulan Keenam

Pada poros kedua, Habibi memandang penerimaan teknologi sebagai isu keadilan. “Pertanyaan yang tepat bukan berapa banyak lisensi yang sudah dibeli, melainkan siapa yang belum terlayani setelah lisensi itu dibeli,” tegasnya.

Ujian sesungguhnya, kata dia, adalah mahasiswa di daerah 3T, penyandang disabilitas, dosen yang belum punya ruang aman untuk bertanya, dan tenaga kependidikan tanpa pelatihan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait