Ketika Kabut Kerinci Menyibak Masa Depan
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.--
Oleh: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Pagi itu, kabut turun perlahan di kaki Gunung Kerinci, sementara matahari menyinari kebun teh, kopi, kayu manis, dan hamparan hortikultura yang membentang seperti permadani hijau. Para petani memulai hari tanpa lagi mencemaskan harga yang bergejolak, rantai pemasaran yang panjang, dan hasil panen yang terlambat tiba di pasar. Teknologi digital membantu mereka membaca cuaca, mengetahui harga, memesan sarana produksi, dan berhubungan langsung dengan pembeli. Hasil pertanian tidak segera diangkut keluar sebagai bahan mentah, tetapi diolah, dikemas, dan dipasarkan dengan merek Kerinci. Gambaran itu menyimpan sebuah harapan: kemajuan tumbuh dari kekuatan masyarakat dan kekayaan daerah sendiri.
BACA JUGA:Sebanyak 588 dari 643 Instansi Pemerintah Berkomitmen Terapkan Manajemen Talenta ASN
Harapan tersebut bukan khayalan tanpa pijakan karena Kerinci memiliki modal alam, manusia, dan budaya yang luar biasa. Pada 2025, Kabupaten Kerinci dihuni sekitar 258.208 penduduk dan menghasilkan Produk Domestik Regional Bruto sebesar Rp15,81 triliun. Ekonominya tumbuh 4,61 persen, sedikit lebih cepat daripada 4,48 persen pada 2024, sedangkan PDRB per kapita mencapai Rp61,23 juta. Angka tersebut memperlihatkan kemajuan, tetapi PDRB per kapita bukan pendapatan yang secara otomatis diterima setiap penduduk. Pertumbuhan baru memperoleh makna apabila meningkatkan pendapatan keluarga, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperluas kesempatan bagi generasi muda. (BPS Kabupaten Kerinci, 2026)
BACA JUGA:Jamsostek Award 2026, Momentum Perkuat Perlindungan 600 Ribu Pekerja di Jambi
Kekuatan utama perekonomian Kerinci masih berada pada pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang 50,78 persen terhadap PDRB pada 2025. Sektor tersebut tumbuh tinggi sebesar 9,12 persen, tetapi industri pengolahan baru berkontribusi 2,86 persen terhadap perekonomian daerah. Perbedaan yang sangat lebar itu menunjukkan bahwa Kerinci kuat menghasilkan komoditas, tetapi belum cukup kuat mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi. Akibatnya, sebagian nilai tambah, pekerjaan, teknologi, dan keuntungan justru tumbuh di luar daerah. Tantangan terbesar pembangunan Kerinci bukan hanya meningkatkan hasil panen, melainkan mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi di tempat komoditas itu ditanam.
BACA JUGA:Bunga Tabebuya Merekah Cantik di Tengah Jerebu Jambi
Kayu manis tidak cukup dijual sebagai kulit kering, kopi tidak cukup dilepas sebagai biji mentah, dan kentang tidak selalu harus meninggalkan kebun tanpa pengolahan. Komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi minyak atsiri, ekstrak pangan dan kosmetik, kopi sangrai bermerek, makanan olahan, serta beragam produk bernilai tinggi. Hilirisasi tidak harus selalu dimulai dengan pabrik raksasa, tetapi dapat tumbuh melalui rumah produksi, koperasi modern, UMKM, dan kemitraan usaha yang sehat. Pemerintah menyediakan infrastruktur, pembiayaan, standardisasi, pelatihan, dan promosi, sedangkan perguruan tinggi menghadirkan teknologi serta inovasi produk. Petani dengan demikian tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi ikut menikmati keuntungan dari keseluruhan rantai nilai.
Pariwisata merupakan pintu kemajuan lain yang belum sepenuhnya terbuka. Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh, Danau Kerinci, perkebunan teh Kayu Aro, air terjun, sumber air panas, desa tradisional, dan kekayaan budaya menjadikan Kerinci salah satu lanskap terindah di Sumatera. Namun, keindahan alam tidak otomatis memperpanjang masa tinggal wisatawan atau memperbesar belanja mereka. Sektor akomodasi dan makan minum pada 2025 baru menyumbang sekitar 0,68 persen terhadap PDRB Kerinci, menunjukkan bahwa manfaat ekonominya masih sangat terbatas. Pariwisata harus diubah dari potensi yang sering dipuji menjadi kegiatan ekonomi yang benar-benar menghidupi masyarakat.
Pariwisata berkualitas membutuhkan akses yang baik, transportasi yang pasti, kebersihan, keamanan, informasi digital, pemandu terlatih, penginapan nyaman, dan kalender kegiatan yang konsisten. Wisatawan perlu ditahan lebih lama melalui paket yang menghubungkan pendakian, danau, kebun teh, kopi, kuliner, budaya, dan kehidupan desa. Masyarakat harus menjadi pelaku utama melalui homestay, kuliner, kerajinan, jasa pemandu, pertunjukan budaya, dan penjualan produk pertanian. Pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan sebesar 12,54 persen pada 2025 memperlihatkan bahwa kebutuhan mobilitas sedang meningkat. Momentum tersebut harus diikuti perbaikan konektivitas agar Kerinci lebih mudah dicapai dan produknya lebih mudah dipasarkan.
Namun, kemajuan Kerinci tidak boleh dibayar dengan kerusakan alam yang menjadi sumber penghidupannya. Sebagian besar daya tarik dan kekuatan ekonomi daerah bergantung pada hutan, kesuburan tanah, ketersediaan air, keindahan lanskap, serta ekosistem Taman Nasional Kerinci Seblat. Pertanian perlu beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui konservasi tanah, perlindungan sumber air, penggunaan benih unggul, informasi cuaca, dan praktik budidaya berkelanjutan. Pembangunan pariwisata harus mengendalikan sampah, melindungi kawasan rentan, dan memperhatikan daya dukung lingkungan. Kerinci maju harus meninggalkan jejak hijau, bukan jejak kerusakan bagi generasi mendatang.
Di tengah harapan tersebut, kepemimpinan Bupati Monadi bersama Wakil Bupati Murison perlu dinilai secara adil dan objektif. Visi “Mewujudkan Kerinci yang Berdaya Saing, Maju dan Sejahtera” telah diarahkan pada pengembangan ekonomi inklusif berbasis pertanian, peningkatan kualitas manusia, penguatan infrastruktur, ketahanan ekologi, dan inovasi. Program bantuan sarana pertanian, pemberdayaan UMKM, pengembangan agrowisata, beasiswa, layanan kesehatan, desa digital, serta perbaikan jalan menunjukkan luasnya perhatian pemerintah daerah. Kunjungan ke desa, dialog dengan warga, dan pengawasan pekerjaan lapangan merupakan pendekatan penting karena membantu pemimpin memahami persoalan masyarakat secara langsung. Kedekatan dengan masyarakat patut diapresiasi, tetapi harus menjadi pintu masuk bagi penyelesaian masalah, bukan berhenti sebagai kegiatan seremonial dan komunikasi publik. (Pemerintah Kabupaten Kerinci)
BACA JUGA:Pengumuman Lelang Ulang Eksekusi Hak Tanggungan BRI Debitur Atas Nama Nahdiyat
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




