Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Berdaya Tahan Tinggi
Dr.M.Lucky Akbar, S.Sos, M.Si--
Oleh: Dr.M.Lucky Akbar, S.Sos, M.Si
Pertumbuhan ekonomi sering kerap dipahami sebatas angka. Ketika ekonomi tumbuh di atas lima persen, kita merasa cukup lega. Ketika investasi meningkat dan konsumsi masyarakat bergerak, optimisme pun tumbuh.
Namun, di tengah perubahan ekonomi global yang semakin cepat, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan hanya seberapa tinggi ekonomi tumbuh, melainkan seberapa kuat pertumbuhan tersebut mampu bertahan.
Pertanyaan itu menjadi relevan bagi Indonesia saat ini. Ekonomi nasional masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang tumbuh 5,03 persen.
Nilai PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun, dengan PDB per kapita Rp83,7 juta atau sekitar US$5.083. Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 7,03 persen, sedangkan dari sisi produksi jasa lainnya tumbuh paling tinggi sebesar 9,93 persen.
BACA JUGA:Atasi Longsor di Tol Cisumdawu KM 177 dan 207, Wamen PU Minta Antisipasi Air Jelang Musim Hujan
Memasuki Tahun 2026, ketahanan itu masih terlihat. Pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang oleh konsumsi pemerintah yang tumbuh 21,81 persen dan sektor penyediaan akomodasi serta makan minum yang tumbuh 13,14 persen. PDB atas dasar harga berlaku pada periode tersebut mencapai Rp6.187,2 triliun.
Angka-angka tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa Indonesia tumbuh dalam lingkungan global yang tidak sederhana.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Update Juli 2026 memproyeksikan ekonomi dunia tumbuh 3,0 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027. IMF menyebut pertumbuhan global masih bertahan, tetapi tidak merata. Konflik dan gangguan geopolitik menekan sejumlah negara, sementara momentum teknologi dan kecerdasan buatan memberikan dorongan baru bagi negara yang terhubung dengan rantai nilai teknologi global. Pada saat yang sama, proses penurunan inflasi global mengalami hambatan.
Bank Dunia memberikan gambaran yang tidak jauh berbeda. Dalam Global Economic Prospects Juni 2026, konflik di Timur Tengah diperkirakan menekan pertumbuhan global melalui kenaikan harga energi, inflasi yang lebih tinggi, dan meningkatnya biaya pembiayaan. Ini menunjukkan bahwa guncangan yang terjadi di satu kawasan dapat dengan cepat merambat melalui jalur perdagangan, harga komoditas, nilai tukar, investasi, dan pasar keuangan.
BACA JUGA:Warga Desa dan PTPN IV Regional IV Panen Ikan di Lubuk Larangan
Bagi Indonesia, kondisi tersebut perlu dibaca sebagai pengingat bahwa ketahanan ekonomi tidak boleh hanya mengandalkan keberuntungan karena memiliki pasar domestik yang besar. Pasar domestik memang menjadi kekuatan utama, tetapi perekonomian Indonesia tetap terhubung dengan dunia melalui perdagangan, investasi, komoditas, arus modal, teknologi, dan rantai pasok global.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



