Reward Bebas Karhutla TAP Menggerakkan Ekonomi Desa
Reward Bebas Karhutla TAP Menggerakkan Ekonomi Desa--
MUARO JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID– Program pembinaan masyarakat dari PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) yang dilakukan oleh salah satu anak usahanya PT Brahma Binabakti (BBB) terus memberikan dampak positif bagi desa-desa di sekitar wilayah operasional perusahaan. Tak hanya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), perusahaan juga aktif meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya petani.
BACA JUGA:Gubernur Al Haris Bersama Ribuan Jamaah Gelar Salat Istisqa di Lapangan Garuda
Salah satu program yang rutin dilakukan adalah sosialisasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perusahaan juga memberikan penghargaan atau reward kepada desa binaan yang berhasil menjaga wilayahnya terbebas dari karhutla.
BACA JUGA:Polytron G3 Series Tawarkan Solusi Hemat Mobilitas, Sekali Pengisian Daya Cuma Rp88 Ribu
Desa Suak Putat, Kecamatan Sekernan, menjadi salah satu desa penerima reward tersebut. Tahun ini, desa tersebut mendapatkan penghargaan senilai Rp50 juta karena berhasil tidak mengalami karhutla sepanjang 2025.
Program reward tersebut telah berjalan selama lima tahun. Dana yang diterima desa kemudian dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
BACA JUGA:Lahan di Km 29 Bukit Baling Muaro Jambi Terbakar, Damkar Bergerak Cepat
Sekretaris Desa Suak Putat Didik Juwiyanto mengatakan, dukungan BBB tidak hanya berupa bantuan fisik maupun CSR. Perusahaan juga memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama para petani kelapa sawit.
“Yang diberikan PT Brahma Binabakti bukan hanya CSR, tetapi juga pendidikan untuk para petani. Kami sudah sering melaksanakan pembelajaran terkait pertanian sawit dan banyak masyarakat mendapatkan ilmu,” kata Didik saat berdiskusi dengan sejumlah awak media di Kantor Desa Suak Putat, Selasa (1/9).
Menurut dia, pelatihan tersebut membantu petani memahami cara pemupukan dan pengelolaan tanaman sawit secara lebih tepat. Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterapkan di lapangan dan berdampak terhadap hasil produksi tandan buah segar (TBS).
“Dulu masyarakat asal tanam dan asal pupuk, tidak tahu takaran dan sebagainya. Setelah mengikuti pembelajaran dan dipraktikkan, hasilnya berbeda. Ini sangat membantu untuk meningkatkan hasil TBS,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



