Ketika Umat Islam Berhenti Membelah Ilmu
Judul buku: Transintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post-Modernisme--
Judul buku: Transintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post-Modernisme
Penulis: Suaidi Asyari
Penerbit: PT RajaGrafindo Persada
Tahun: 2026
Tebal: 644 halaman
Ada sebuah paradoks dalam perjalanan intelektual umat Islam. Kita dengan bangga menyebut Ibn Sina sebagai dokter dan filsuf, al-Khawarizmi sebagai matematikawan, al-Biruni sebagai ilmuwan, al-Farabi sebagai filsuf, Ibn Rushd sebagai ahli hukum sekaligus filsuf, atau Ibn Khaldun sebagai pemikir sejarah dan masyarakat. Namun, ketika membangun lembaga pendidikan modern, kita justru sering memisahkan dengan tegas apa yang disebut “ilmu agama” dari “ilmu umum”.
BACA JUGA:Momentum Maulid Menumbuhkan Kepedulian Bangsa
Pertanyaannya sederhana: jika para pembangun peradaban Islam dahulu tidak hidup dalam dikotomi ilmu seperti yang kita kenal sekarang, mengapa universitas Islam modern justru mewarisinya?
Pertanyaan inilah yang membuat Transintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post-Modernisme karya Suaidi Asyari layak dibaca sebagai lebih dari buku filsafat ilmu. Buku setebal 644 halaman ini merupakan ajakan untuk memikirkan kembali hubungan Islam, ilmu pengetahuan, universitas, dan peradaban.
BACA JUGA:Berkendara di Jalan Tol Harus Fokus, Hindari 5 Kebiasaan Berbahaya Ini
Pesan dasarnya cukup tegas. Kebangkitan peradaban Islam tidak akan lahir hanya dari romantisme terhadap kejayaan masa lalu. Ia membutuhkan keberanian untuk kembali menjadikan produksi ilmu pengetahuan sebagai salah satu pusat kehidupan umat.
Ketika Ilmu Belum Terbelah
Salah satu pelajaran penting dari sejarah peradaban Islam adalah keterbukaannya terhadap ilmu.
Ilmuwan Muslim mempelajari warisan Yunani, Persia, India, dan tradisi-tradisi lain. Mereka menerjemahkan, mengkritik, mengembangkan, bahkan melampaui sebagian pengetahuan yang diterimanya. Astronomi, matematika, kedokteran, filsafat, geografi, optika, dan berbagai bidang ilmu berkembang berdampingan dengan tafsir, hadis, fikih, kalam, dan tasawuf.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




