Pengabmas Dosen Poltekkes Kemenkes Jambi
Pengabmas Dosen Poltekkes Kemenkes Jambi, Edukasi Warga Desa Penyengat Olak tentang HbA1c dan Status Zat Besi pada Penderita Diabetes--
Edukasi Warga Desa Penyengat Olak tentang HbA1c dan Status Zat Besi pada Penderita Diabetes
JAMBI , JAMBIEKSPRES.CO.ID— Upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait pencegahan dan pengendalian penyakit kronis, terus dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas). Salah satunya melalui kegiatan “Edukasi Pengendalian Kadar HbA1c dan Kadar Zat Besi pada Penderita DMT2” yang dilaksanakan di Desa Penyengat Olak, Kabupaten Muaro Jambi.
Kegiatan pengabmas kali ini melibatkan masyarakat Desa Penyengat Olak sebagai mitra Pengabmas. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit diabetes, memberikan informasi tentang hubungan antara diabetes, HbA1c, dan zat besi, serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan diabetes. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan informasi mengenai cara mencegah dan mengendalikan diabetes, termasuk langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika terjadi abnormalitas kadar zat besi yang berkaitan dengan kondisi kesehatan penderita diabetes.Tim kegiatan pengabmas ini diketuai oleh Aminahtun Latifah, S.Si.,M.Si, dengan anggota Larasti Putri Umizah, S.Si.,M.Biomed, dimana kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari Tridarma Perguruan Tinggi yang rutin dilakukan setiap tahun.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi edukasi dan diskusi interaktif bersama masyarakat. Materi yang diberikan mencakup pengenalan Diabetes Melitus Tipe 2, faktor risiko diabetes, pentingnya pola makan sehat, aktivitas fisik, pengelolaan berat badan, kepatuhan terhadap pengobatan, serta pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai HbA1c sebagai salah satu parameter untuk memantau pengendalian kadar gula darah dalam jangka waktu tertentu.
Selain membahas diabetes dan HbA1c, kegiatan Pengabmas juga memberikan edukasi mengenai pentingnya memperhatikan status zat besi dalam tubuh. Pada sesi edukasi mengenai zat besi, masyarakat diberikan informasi mengenai fungsi zat besi bagi tubuh, pentingnya menjaga keseimbangan zat besi, serta kemungkinan terjadinya perubahan status zat besi pada penderita penyakit kronis.
Masyarakat juga diberikan pemahaman bahwa kondisi kadar zat besi yang rendah maupun terlalu tinggi, perlu mendapatkan perhatian dan tidak boleh ditangani secara mandiri tanpa mengetahui penyebabnya. Pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan penyebab serta penatalaksanaan yang tepat.
Zat besi merupakan salah satu mikronutrien penting yang berperan dalam pembentukan hemoglobin dan berbagai proses fisiologis tubuh. Perubahan status zat besi dapat terjadi pada berbagai kondisi kesehatan dan penyakit kronis sehingga perlu dievaluasi berdasarkan kondisi klinis serta hasil pemeriksaan laboratorium.
Masyarakat diberikan pemahaman bahwa apabila ditemukan adanya abnormalitas status zat besi, baik kadar yang rendah maupun tinggi, kondisi tersebut perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.
Tim Pengabmas juga menekankan bahwa masyarakat tidak dianjurkan mengonsumsi suplemen zat besi secara mandiri, tanpa mengetahui kondisi dan penyebab kelainan yang dialami. Pemeriksaan laboratorium dan konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penatalaksanaan yang tepat.
Kegiatan Pengabmas ini juga memiliki keterkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Ketua Tim Pengabmas, Aminahtun Latifah, S.Si., M.Si., terkait status zat besi pada penyakit kronis dan pemeriksaan laboratorium pada kondisi Diabetes Melitus. Ketua Tim Pengabmas, Aminahtun Latifah, S.Si., M.Si menyampaikan bahwa edukasi kepada masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit kronis.
“Masyarakat perlu memiliki pemahaman yang benar mengenai Diabetes Melitus Tipe 2, tidak hanya tentang kadar gula darah, tetapi juga bagaimana melakukan pencegahan, pengendalian, dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan. Pemeriksaan HbA1c dapat menjadi salah satu bagian dari pemantauan pengendalian glukosa, sementara status zat besi juga perlu diperhatikan sesuai kondisi dan indikasi medis. Melalui edukasi ini, kami berharap masyarakat dapat lebih sadar untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan hasil pemeriksaan yang abnormal,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan pengetahuan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi dapat diwujudkan dalam perubahan perilaku kesehatan sehari-hari. Masyarakat diharapkan mampu menerapkan pola hidup sehat, mengendalikan faktor risiko Diabetes Melitus Tipe 2, memanfaatkan layanan kesehatan untuk pemeriksaan secara berkala, serta tidak melakukan pengobatan atau konsumsi suplemen secara mandiri tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




