Harga Kelapa Dalam Kembali Merosot Ditengah Musim Panen
Harga Kelapa Dalam Kembali Merosot Ditengah Musim Panen-Ist-
MUARASABAK, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Nasib petani kelapa dalam di Kabupaten Tanjabtim kembali diuji. Harapan menikmati kenaikan harga yang sempat muncul dalam beberapa waktu terakhir harus pupus setelah harga jual kelapa di tingkat petani kembali merosot.
BACA JUGA:Tutup MTQ Ke-22, Kecamatan Singkut Keluar Sebagai Juara Umum
Dalam sepekan terakhir, harga kelapa dalam yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.500 per kilogram turun menjadi sekitar Rp2.000 per kilogram. Bahkan, di sejumlah sentra produksi, harga jual disebut berada di bawah angka tersebut.
BACA JUGA:Mentan Amran Dorong Peningkatan Ekspor CPO dan Kelapa ke Lebanon untuk Bidik Pasar Timur Tengah
Penurunan harga terjadi saat sebagian besar petani mulai memasuki musim panen. Kondisi ini membuat pendapatan mereka kembali tergerus, sementara biaya perawatan kebun dan kebutuhan rumah tangga terus meningkat. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, tidak sedikit petani diperkirakan akan meninggalkan kebun dan memilih mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dampak penurunan harga juga dirasakan para pengepul. Acik, salah seorang pengepul kelapa di Kecamatan Muara Sabak Timur, mengatakan harga beli yang diterapkan kepada petani sepenuhnya mengikuti harga dari toke besar.
Menurut dia, saat harga dari toke besar berada di angka Rp2.500 per kilogram, pengepul hanya mampu membeli kelapa petani di kisaran Rp2.000 hingga Rp2.100 per kilogram, tergantung jarak angkut dan biaya operasional.
"Kami tetap menerima hasil panen petani yang sudah menjadi langganan bertahun-tahun. Tidak mungkin kami menolak, tetapi harga memang mengikuti harga dari toke besar," ujarnya.
Acik menjelaskan, selisih harga yang diperoleh pengepul digunakan untuk menutupi biaya tenaga kerja, ongkos angkut, hingga operasional lainnya. Karena itu, ketika harga turun, keuntungan yang diperoleh juga semakin tipis.
Selain persoalan harga, pengepul juga dihadapkan pada stok kelapa yang terus menumpuk di gudang. Apabila tidak segera dipasarkan atau diolah, kualitas kelapa akan menurun dan berpotensi mengalami kerusakan.
"Kalau gudang sudah penuh, kelapa harus segera dijual atau diolah. Kalau terlalu lama disimpan pasti akan rusak," katanya.
Sementara itu, seorang petani kelapa, Warno, mengaku anjloknya harga membuat hasil panen tidak lagi mampu menutupi biaya perawatan kebun maupun kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk mencukupi penghasilan, ia bersama sejumlah petani lainnya terpaksa mencari pekerjaan serabutan.
"Kadang kami kerja serabutan, yang penting masih bisa mencari nafkah untuk keluarga," ungkapnya.
Warno berharap pemerintah dapat mengambil langkah nyata untuk menjaga stabilitas harga kelapa. Menurutnya, harga yang membaik akan memberikan semangat bagi petani untuk terus mengelola kebun sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:





