Ketika Pasar Sepi, Persoalannya Bukan Lagi Harga
Prof. Dr. Haryadi, SE, M.MS--
Oleh: Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
"Pembeli sepi, padahal harga tidak naik."
Kalimat sederhana yang disampaikan seorang pedagang pasar tradisional tersebut sesungguhnya menyimpan pesan ekonomi yang jauh lebih dalam daripada sekadar keluhan dagang sehari-hari.
BACA JUGA:BRI Hadirkan QRIS Cross Border BRImo di China, Transaksi Luar Negeri Makin Mudah
Di tengah berbagai pemberitaan tentang inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang masih positif, dan stabilitas harga yang relatif terjaga, pasar justru menunjukkan gejala yang berbeda. Aktivitas jual beli tidak seramai sebelumnya. Perputaran uang melambat. Pedagang mulai mengeluhkan penurunan omzet. Pertanyaannya, mengapa hal itu terjadi ketika harga-harga tidak mengalami kenaikan yang berarti?
Banyak orang masih meyakini bahwa daya beli masyarakat hanya ditentukan oleh harga barang. Logika sederhananya, jika harga naik maka daya beli turun, dan jika harga stabil maka daya beli akan tetap terjaga. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Realitas ekonomi jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan antara harga dan konsumsi. Pasar yang sepi justru menunjukkan bahwa persoalan yang sedang dihadapi Indonesia bukan lagi semata-mata masalah inflasi atau harga barang, melainkan persoalan yang lebih mendasar, yaitu ketahanan struktur ekonomi masyarakat.
BACA JUGA:Tegas! Harga TBS Tak Kunjung Naik, Mentan Gandeng Satgas Pangan Periksa 300 Perusahaan Sawit
Inilah tesis utama tulisan ini: Indonesia mungkin berhasil mengendalikan inflasi, tetapi belum tentu berhasil menjaga daya beli masyarakat. Ketika pasar sepi di tengah harga yang relatif stabil, yang sedang melemah bukan harga barang, melainkan kemampuan ekonomi masyarakat untuk menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menopang konsumsi.
Pandangan ini tentu tidak akan diterima oleh semua pihak. Kelompok pertama berpendapat bahwa kondisi ekonomi Indonesia sesungguhnya masih cukup baik. Mereka menunjuk berbagai indikator makroekonomi yang menunjukkan stabilitas. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mencapai sekitar 5,11 persen. Tingkat inflasi tahunan juga relatif terkendali di bawah 3 persen. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dari perspektif ini, tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat sedang mengalami masalah serius.
BACA JUGA:Siap-Siap! Kemnaker Buka Pendaftaran Magang Nasional Tahap 2, Catat Ini Tanggalnya
Kelompok kedua mengambil posisi yang berlawanan. Mereka melihat pasar yang sepi sebagai bukti bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang memburuk. Menurut kelompok ini, lemahnya transaksi perdagangan menunjukkan bahwa masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Keluhan para pedagang pasar, pelaku UMKM, dan usaha kecil dianggap sebagai bukti bahwa pertumbuhan ekonomi yang selama ini dibanggakan belum benar-benar dirasakan oleh masyarakat bawah.
Kedua pandangan tersebut memiliki dasar argumentasi masing-masing. Namun keduanya juga mengandung kelemahan. Kelompok pertama terlalu bergantung pada indikator makro dan sering menganggap angka statistik sebagai representasi sempurna dari realitas ekonomi masyarakat. Sebaliknya, kelompok kedua sering menarik kesimpulan yang terlalu jauh hanya berdasarkan fenomena yang terlihat di lapangan. Posisi yang lebih tepat justru berada di tengah, yaitu dengan menggugat kedua cara pandang tersebut sekaligus.
BACA JUGA:Telkomsel Komitmen Menerapkan Praktik Bisnis Lebih Hijau dan Berkelanjutan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:





