MITSUBISHI JANUARI 2026

Skill Acquitision di Tengah Ketergantungan Artifical Intelligence (AI)

Skill Acquitision di Tengah Ketergantungan Artifical Intelligence (AI)

--

Penulis: Otniel Benaya Tarigan, Nayla Agustina Salsabilla dan Nurul Maysaroh *

Lead (Teras)

Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan memperoleh informasi. 

Di Indonesia, penggunaan AI semakin meningkat, terutama di kalangan Generasi Z yang memanfaatkan teknologi ini untuk kebutuhan belajar, membuat konten, hingga menyelesaikan tugas akademik. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. 

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah penggunaan AI membantu proses skill acquisition atau justru membuat manusia semakin bergantung dan kehilangan kemampuan berpikir mandiri?

Sebelum itu, mari kita mengulas sekilas tentang Skill Acquisition. Skill acquisition adalah proses individu dalam mempelajari, mengembangkan, dan menyempurnakan keterampilan melalui latihan, pengalaman, instruksi, serta pengulangan secara bertahap hingga keterampilan tersebut dapat dilakukan secara efektif dan efisien. 

Tesis

Apabila teknologi digunakan secara pasif dan ketergantungan, tanpa diimbangi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan latihan mandiri, hal ini dapat menghambat proses skill acquisition individu. AI seharusnya menjadi alat bantu untuk mempercepat dan mempermudah pembelajaran serta memperoleh informasi, bukan pengganti kemampuan manusia dalam memahami proses belajar itu sendiri.

Argumentasi

Survei APJII tahun 2025 mencatat sebanyak 43,7 persen pengguna AI di Indonesia berasal dari kalangan Gen Z, dan mayoritas digunakan untuk belajar. Selain itu, sekitar 48,89 persen Gen Z memanfaatkan AI untuk kegiatan akademik dan pencarian informasi. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok pengguna AI terbesar, dan terus meningkat.

Peningkatan penggunaan AI juga terlihat pada sektor pendidikan digital. Laporan Global Skills Report 2025 dari Coursera menunjukkan bahwa pendaftaran kursus Generative AI di Indonesia meningkat hingga 237 persen dibanding tahun sebelumnya, bahkan melampaui rata-rata global. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat dalam mempelajari teknologi AI. 

Hanya saja penggunaan AI yang terlalu cepat dan mudah ternyata telah memengaruhi proses pembentukan keterampilan seseorang. Banyak pelajar mulai terbiasa meminta AI merangkum materi, membuat jawaban, bahkan menyusun tugas secara otomatis tanpa memahami proses berpikir di baliknya. 

Akibatnya, kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan kreativitas berpotensi menurun karena individu lebih fokus pada hasil cepat dibanding proses belajar.

Penelitian mengenai penggunaan Gen AI dalam pendidikan juga menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung optimis terhadap AI karena dianggap meningkatkan produktivitas dan efisiensi belajar. 

Akan tetapi, para pendidik mengkhawatirkan munculnya ketergantungan berlebihan yang dapat memengaruhi kualitas pembelajaran dan kemampuan berpikir kritis siswa. 

Di sisi lain, AI sebenarnya dapat membantu proses skill acquisition apabila digunakan secara bijak. AI mampu menjadi sumber referensi, membantu eksplorasi ide, mempercepat akses informasi, dan mendukung pembelajaran personal. 

Bahkan, laporan Microsoft Work Trend Index menyebutkan bahwa perusahaan mulai mencari tenaga kerja yang memiliki kemampuan AI sekaligus mampu berpikir kritis terhadap hasil teknologi tersebut. 

Karena itu, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga tetap mempertahankan kemampuan berpikir, kreativitas, komunikasi, dan problem solving sebagai keterampilan utama manusia.

Reiterasi

Fenomena meningkatnya penggunaan AI di kalangan generasi muda menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian penting dalam proses belajar modern. Namun, ketergantungan yang berlebihan dapat menghambat perkembangan keterampilan apabila individu hanya mengandalkan AI tanpa melatih kemampuan diri sendiri. AI seharusnya digunakan sebagai pendukung pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir manusia.

Penutup

Di era ketika kecerdasan buatan hadir begitu dekat di genggaman, kita dihadapkan pada paradoks yang sungguh nyata: teknologi yang dirancang untuk mempermudah belajar justru berpotensi mengikis makna belajar itu sendiri. Generasi Z tumbuh bersama AI, memanfaatkannya setiap hari, namun tanpa disadari, kemudahan yang ditawarkan bisa perlahan menggerus proses paling berharga dalam pembentukan diri, yaitu berjuang memahami sesuatu dengan usaha sendiri.

Skill acquisition bukan sekadar tentang tahu, melainkan tentang merasakan proses tahu. Ketika AI menjawab sebelum kita sempat berpikir, merangkum sebelum kita sempat membaca, dan menyusun sebelum kita sempat mencoba, maka yang hilang bukan hanya keterampilan teknis, melainkan kepercayaan diri bahwa kita mampu belajar tanpa bantuan.

Namun ini bukan ajakan untuk menolak teknologi. AI adalah cermin zaman, dan yang menentukan baik-buruknya adalah cara kita bercermin. Jadikan AI sebagai teman berpikir, bukan pengganti pikiran. Sebab pada akhirnya, di dunia yang semakin otomatis, justru hal-hal yang paling manusiawi seperti rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis, akan menjadi nilai yang paling tak tergantikan.

* Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Jambi (UNJA)

Referensi 
-Kompas.id – Resolusi 2026 Gen Z, dari Pengguna AI Jadi Pengguna yang Melek AI
-IDN Times – Menkomdigi Meutya Hafid: 43,7 Persen Gen Z Manfaatkan AI
-DetikEdu – Studi Terbaru Ungkap Generasi Ini Paling Banyak Gunakan AI
-Databoks Katadata – Types of AI Content Accessed by Gen Z to Boomers in Indonesia in 2025
-https://www.kompas.id/artikel/pengguna-ai-di-indonesia-meningkat-kebanyakan-gen-z-untuk-belajar
-Williams, A. M., & Hodges, N. J. (2023). Effective practice and instruction: A skill acquisition framework for excellence. Journal of Sports ---Sciences, 41(8), 833–849. https://doi.org/10.1080/02640414.2023.2240630 









Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: