MITSUBISHI JANUARI 2026

Pesona Diorama Hidup di Kelas Ibu Sandri

Pesona Diorama Hidup di Kelas Ibu Sandri

Sandriani, S.Pd.I. -Ist-

Oleh Sandriani, S.Pd.I. 

Bagi sebagian orang, perjalanan panjang melewati jalan tanah selama berjam-jam mungkin menjadi alasan untuk menyerah. Namun tidak bagi Sandriani, S.Pd.I. Bagi guru IPA SMP Negeri 7 Muaro Jambi ini, tantangan justru menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi anak-anak.

Perempuan kelahiran Jambi, 26 Oktober 1983 tersebut telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan selama hampir dua dekade. Sejak menjadi Pegawai Negeri Sipil pada 2009, ia pernah mengajar di beberapa sekolah di Kabupaten Muaro Jambi, mulai dari SMP Negeri 14, SMP Negeri 34, hingga SMP Negeri 38 Muaro Jambi sebelum akhirnya bertugas di SMP Negeri 7 Muaro Jambi.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat mengajar di SMP Negeri 38 Muaro Jambi. Selama tujuh tahun, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam setiap hari dengan kondisi jalan yang sebagian masih berupa tanah.

Namun di tengah keterbatasan tersebut, Sandriani justru menemukan makna penting tentang profesi guru: bagaimana membuat anak-anak tetap bersemangat belajar, apa pun kondisi yang ada.

Mengubah IPA Menjadi Pelajaran yang Menyenangkan

Bagi sebagian peserta didik, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sering dianggap sulit karena dipenuhi istilah ilmiah dan konsep abstrak. Sandriani memahami tantangan itu. Karena itulah ia berusaha menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu cara yang rutin ia lakukan adalah mengajak peserta didik membuat berbagai karya dan diorama yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Ketika mempelajari sistem pernapasan manusia, misalnya, peserta didik tidak hanya membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru. Mereka diminta membuat model sederhana organ pernapasan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar mereka.

Begitu pula saat mempelajari fotosintesis, rantai makanan, komponen biotik dan abiotik, hingga proses terjadinya hujan. Peserta didik diajak menuangkan pemahamannya ke dalam bentuk karya visual dan tiga dimensi yang dibuat secara berkelompok.

Di ruang kelas Sandriani, konsep-konsep yang semula hanya berupa gambar di buku pelajaran berubah menjadi miniatur ekosistem, model siklus air, hingga diorama rantai makanan yang penuh warna.

“Anak-anak biasanya lebih mudah memahami materi ketika mereka terlibat langsung dalam proses membuat dan menjelaskan kembali konsep yang dipelajari,” kata Sandriani.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar membuat kerajinan tangan. Di balik proses itu, Peserta didik belajar mengamati, berdiskusi, memecahkan masalah, bekerja sama, hingga mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan teman-teman.

Belajar dari Program PINTAR untuk Menjadi Guru yang Lebih Kreatif

Semangat untuk terus berinovasi semakin tumbuh ketika Sandriani bergabung sebagai Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: