KOPI AAA
MITSUBISHI JANUARI 2026

Klaim Ada Dialog Produktif, Trump Tunda Serang Energi Iran Selama 5 Hari

Klaim Ada Dialog Produktif, Trump Tunda Serang Energi Iran Selama 5 Hari

Presiden Amerika Serikat Donald Trump-instagram realdonaldtrump-

ISTANBUL, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Presiden AS Donald Trump, Senin, mengatakan bahwa dia telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.

Hal itu dilakukan oleh Trump dengan alasan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Teheran selama dua hari terakhir.

BACA JUGA:H+2 Lebaran 2026, Pemudik Arus Balik di Pelabuhan Bakauheni Mulai Meningkat

"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan negara Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," kata Trump di platform media sosialnya, Truth Social dikutip dari Antara.

BACA JUGA:Momen Idul Fitri 2026, 15.038 Guru Pendidikan Agama Islam Lulus Sertifikasi

Dia menambahkan bahwa berdasarkan "nada dan isi percakapan yang mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu," dia telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.

BACA JUGA:Libur Lebaran 2026, Kerinci Targetkan 100 Ribu Kunjungan Wisatawan

Penundaan itu bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung, tambahnya.

Hal itu terjadi seiring dengan terus meningkatnya eskalasi regional sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang hingga saat ini telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

BACA JUGA:Viral Pungli Parkir Rp15 Ribu di Telun Berasap, Polres Kerinci Langsung Tertibkan

Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: