BMKG Ingatkan Jambi Waspada Pancaroba
Ilustrasi BMKG--
JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah di Provinsi Jambi untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi masa peralihan musim hingga puncak kemarau 2026.
BACA JUGA:Ini Model Yang Jadi Penggerak Utama Penjualan Daihatsu
Selain potensi hujan lebat pada awal tahun, ancaman kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) juga diprediksi meningkat pada pertengahan tahun.
BACA JUGA:Pertumbuhan Ekonomi Muaro Jambi 2025 Terjun ke 4,50 Persen
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Ibnu Sulistiyono, mengatakan berdasarkan analisis curah hujan dasarian II Februari 2026, sebagian besar wilayah Jambi mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah.
Meski demikian, beberapa daerah tercatat mengalami curah hujan tinggi, terutama di Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Bungo, Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Tebo.
Menurutnya, pada periode Maret hingga Mei 2026 curah hujan di wilayah Jambi umumnya berada pada kategori menengah dengan kisaran 100 hingga 300 milimeter per bulan.
Namun potensi hujan tinggi di atas 300 milimeter per bulan masih dapat terjadi, khususnya pada Maret hingga April di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Bungo dan Kabupaten Merangin.
“Pada periode ini masyarakat perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang dan sambaran petir, terutama pada siang hingga sore hari,” kata Ibnu, Jumat (6/3).
BMKG memperkirakan awal musim kemarau di Jambi akan dimulai pada dasarian pertama Mei hingga dasarian pertama Juni 2026.
Masa peralihan musim atau pancaroba diprediksi terjadi pada April hingga Mei, yang umumnya ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat dan potensi cuaca ekstrem.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan yang diperkirakan meningkat seiring masuknya musim kemarau.
Berdasarkan prediksi indeks kesesuaian iklim, risiko kemunculan titik panas di Jambi diperkirakan berada pada kategori menengah pada Juni 2026 dan meningkat menjadi tinggi pada Juli hingga Agustus.
Untuk itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat memicu karhutla. Upaya pencegahan sejak dini dinilai penting untuk menekan risiko bencana selama musim kemarau.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




