KOPI AAA
MITSUBISHI JANUARI 2026

Pertumbuhan Ekonomi Muaro Jambi 2025 Terjun ke 4,50 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Muaro Jambi 2025 Terjun ke 4,50 Persen

Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Muaro Jambi. -Ist-

MUAROJAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Muaro Jambi pada 2025 tercatat melambat tajam. Setelah sempat tumbuh 6,33 persen pada 2024, angka pertumbuhan ekonomi tahun lalu turun menjadi 4,50 persen.

BACA JUGA:Aktivitas PETI Rusak Hutan Lindung, Tiga Ekskavator Sedang Bekerja

Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Muaro Jambi, Edy Subagiyo, menyebut perlambatan ini dipengaruhi kontraksi signifikan di sejumlah sektor strategis, terutama konstruksi.

BACA JUGA:Konflik Lahan Zona Merah Pertamina, DPRD Kota Jambi dan ATR/BPN Sepakat Bentuk Tim Terpadu

“Pertumbuhan ekonomi Muaro Jambi tahun 2025 tercatat 4,50 persen, lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai 6,33 persen,” katanya

Menurut Edy, struktur pertumbuhan tahun ini menunjukkan ketimpangan antar sektor. Beberapa lapangan usaha memang tumbuh tinggi, namun tidak cukup kuat menopang keseluruhan kinerja ekonomi Daerah.

Pada 2025, kata dia, pertumbuhan tertinggi PDRB Muaro Jambi ditopang tiga kategori. Sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, melesat 8,85 persen. Disusul informasi dan komunikasi sebesar 8,42 persen serta transportasi dan pergudangan yang tumbuh 7,53 persen.

“Kategori perdagangan serta informasi dan komunikasi masih menjadi motor pertumbuhan. Aktivitas konsumsi masyarakat relatif terjaga,” sampainya.

Namun, di sisi lain, sektor konstruksi justru terkontraksi dalam hingga minus 8,54 persen, menjadi yang terendah di antara seluruh kategori usaha.

Padahal, kata Edy, pada tahun 2024 konstruksi merupakan salah satu penopang utama struktur PDRB Muaro Jambi.

Edy menjelaskan, penurunan tersebut berkaitan dengan berkurangnya volume pekerjaan sejumlah proyek strategis nasional dan provinsi pada pada tahun 2025 dibanding tahun 2024, seperti pembangunan Jalan Tol Sebapo - Pijoan serta Stadion Swarna Bumi.

Pada 2025, intensitas proyek berskala besar menurun drastis sehingga nilai tambah sektor konstruksi ikut tergerus.

"Konstruksi mengalami penurunan cukup dalam. Ini sangat memengaruhi struktur PDRB karena selama ini sektor tersebut memiliki kontribusi besar,” ujarnya.

Edy Subagiyo mengatakan, perlambatan ini bukan semata-mata cerminan melemahnya kinerja Pemerintah Daerah. Dalam konsep PDRB, kata dia, nilai ekonomi dihitung berdasarkan lokasi kegiatan, bukan asal anggaran atau kepemilikan proyek.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait