KOPI AAA
MITSUBISHI JANUARI 2026

Jambi-Sumbar Perlu Kolaborasi Jaga Sungai Batanghari Dari Pencemaran

Jambi-Sumbar Perlu Kolaborasi Jaga Sungai Batanghari Dari Pencemaran

Ilustrasi: Lomba pacu perahu di sungai Batanghari rutin di gelar sebagai bagian kampanye lingkungan dan pariwisata Jambi. ANTARA/HO-Diskominfo Provinsi Jambi-Ist-

JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Provinsi JAMBI dan Sumatera Barat (Sumbar) perlu kolaborasi dalam mewujudkan komitmen untuk menahan laju pencemaran air Sungai Batanghari akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di bagian hulu.

BACA JUGA:BMKG: Waspada Jakarta Diperkirakan Hujan Pada Sabtu Pagi Hingga Malam

"Butuh komitmen antara Jambi dan Sumatera Barat, mengingat aliran Sungai Batanghari melintasi batas administratif dua wilayah. Jambi tidak bisa bekerja sendiri," kata Wakil Ketua II DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata di Jambi, Selasa, dikutip dari antara. 

BACA JUGA:Rupiah Menguat Dipengaruhi Komitmen Kerja Sama AS-Indonesia

Menurut Ivan, kolaborasi dua wilayah menjadi keharusan untuk mengurangi tingkat pencemaran merkuri akibat aktivitas tambang, karena pembagian wilayah kerja Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) untuk penanganan Sungai Batanghari saat ini terbagi menjadi dua.

Di wilayah Jambi (hilir) ditangani oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) Wilayah VI, sementara itu wilayah (hulu) menjadi wewenang BWSS Wilayah V.

Selain penertiban PETI di kedua wilayah, ia menilai perlu melakukan langkah strategis dan menyeluruh berbasis lingkungan dan ekonomi untuk menahan laju pencemaran, antara lain melakukan penghijauan (reboisasi) menanam pohon di sepanjang aliran sungai untuk mencegah abrasi dan menjaga volume air, serta melakukan pengerukan (normalisasi) sedimentasi guna meningkatkan kapasitas sungai.

Kedua kegiatan itu perlu dilakukan, kata dia, untuk membuka peluang optimalisasi jalur transportasi air, termasuk untuk pengangkutan hasil tambang batu bara.

Selain itu, lanjut dia, tak kalah penting membuat gerakan kebersihan secara massal secara rutin dengan melibatkan elemen masyarakat, termasuk TNI, Polri, dan pemerhati lingkungan.

"Aktivitas PETI di wilayah hulu menjadi penyebab utama meningkatnya kadar merkuri dan kekeruhan air. ​Dampak ini dirasakan langsung oleh PDAM, dimana biaya pengolahan air menjadi sangat mahal akibat kondisi air baku yang buruk. Biaya PDAM kita selalu mahal itu gara-gara keruh Sungai Batanghari," katanya.

Sebelumnya akademisi Universitas Jambi (Unja) Tedjo Sukmono mendorong pemerintah daerah menyusun peraturan daerah penetapan zona hijau Sungai Batanghari sebagai langkah menjaga kelestarian lingkungan dari ancaman kepunahan habitat ikan.

"Dengan maraknya tekanan Sungai Batanghari hari ini dari berbagai persoalan perlu membuat satu kebijakan melibatkan pemangku kepentingan. Karena sungai itu sebagai sumber kehidupan ekosistem dan kebutuhan air bersih (PDAM)," ucapnya.

Tedjo mendorong pemerintah membentuk suatu perjanjian gabungan (konsorsium) dengan melibatkan BWSS dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) membuat kesepakatan penetapan lahan untuk kebutuhan vegetasi (zona hijau).

Langkah itu dinilai penting, kata dia, guna menjaga kelestarian lingkungan di sepanjang aliran Sungai Batanghari, sekaligus pengembangan habitat di dalamnya.(ant) 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait