KOPI AAA
MITSUBISHI JANUARI 2026

Dokter Paparkan Tantangan Pengobatan Kanker Pada Lansia, Jaga Kualitas Hidup

Dokter Paparkan Tantangan Pengobatan Kanker Pada Lansia, Jaga Kualitas Hidup

Ilustrasi lansia penyintas kanker. ANTARA/Primaya Hospital--

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Hematologi Onkologi lulusan Universitas Diponegoro (Undip), Daniel Rizky mengatakan keberhasilan terapi kanker bukan hanya diukur dari angka kesembuhan, namun juga kualitas hidup pasien.

BACA JUGA:Mudik Lebaran 2026, Seksi 2 Tol Serang–Panimbang Difungsionalkan

"Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari angka survival rate, tetapi juga dari respon tumor terhadap pengobatan serta kualitas hidup pasien. Terapi yang ideal adalah yang efektif tanpa membuat kondisi pasien semakin memburuk,” ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat  dikutip dari antara. 

BACA JUGA:Libur Imlek 2026, JTTS Kelolaan HK Catat Trafik Lebih Dari 670 Ribu Kendaraan

Hal tersebut ia sampaikan berkaitan dengan anggapan bahwa pengobatan kanker pada lansia selalu berisiko tinggi. Padahal saat ini tersedia regimen terapi yang lebih ramah bagi pasien usia lanjut (lansia), dengan pendekatan yang menyeimbangkan efektivitas pengobatan dan kualitas hidup.

Menurutnya, penanganan kanker pada lansia memiliki tantangan tersendiri, salah satu faktor utamanya adalah kondisi kerapuhan atau frailty index, yaitu tingkat kebugaran biologis pasien yang tidak selalu sejalan dengan usia kronologisnya.

Penanganan juga tetap didasarkan pada jenis dan stadium kanker, dengan mempertimbangkan fungsi organ, penyakit penyerta, serta kondisi kebugaran pasien.

“Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama. Karena itu terapi tidak bisa disamaratakan dan harus melalui penilaian khusus sebelum menentukan jenis maupun dosis pengobatan,” jelasnya.

Selain aspek medis, kata dia, dukungan keluarga memegang peran penting. Salah satu kesalahan yang kerap terjadi adalah pembatasan makanan secara ekstrem akibat mitos yang beredar. Padahal pasien yang menjalani terapi membutuhkan asupan nutrisi cukup untuk membantu proses pemulihan. 

“Kanker tak hanya penyakit biologis, tetapi juga berdampak sosial dan emosional. Support system yang kuat membantu pasien tetap semangat dan tidak merasa sendirian dalam menjalani terapi,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan pengobatan, kata dia, lansia penyintas kanker tetap perlu kontrol dan pemantauan rutin untuk mendeteksi kemungkinan kekambuhan serta memantau efek samping terapi.

“Penanganan tepat bagi penyintas kanker lansia adalah kombinasi antara terapi medis yang terukur dan dukungan keluarga yang optimal. Tujuannya bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan kualitas hidup tetap terjaga,” ucap Daniel Rizky.(ant) 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: