Hasil Lab Insiden Keracunan Belum Keluar, Dapur SPPG Sengeti Masih Ditutup
Siswa saat tengah dirawat di RSUD usai mengalami dugaan keracunan MBG beberapa waktu lalu.-Ist-
JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID – Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Jambi masih menunggu hasil uji laboratorium terkait insiden keracunan massal yang menimpa siswa di Kabupaten Muaro Jambi pada 30 Januari lalu.
Hingga kini, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jambi masih melakukan pemeriksaan mendalam terhadap sampel makanan jenis soto yang diduga menjadi penyebab keracunan.
BACA JUGA:RESMI! Pemerintah Tetapkan Awal Ramadhan 2026 Jatuh pada Kamis 19 Februari 2026
Sekretaris Satgas Percepatan MBG Provinsi Jambi, Johansyah, menjelaskan bahwa proses investigasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menentukan titik kontaminasi yang sebenarnya.
"Pemeriksaan masih berlangsung di Labkesda Provinsi Jambi. Ada yang memang perlu didalami lebih dalam terkait hasil makanan soto yang disajikan di Sengeti," ujar Johansyah kepada Jambi Ekspres (17/2).
BACA JUGA:1 Ramadan 1447 H di Malaysia Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
Johansyah yang juga menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi ini menegaskan bahwa menu soto itu sendiri sebenarnya tidak bermasalah secara komposisi. Oleh karena itu, tim investigasi sedang mencari tahu secara spesifik di mana letak kesalahan penanganan atau pengolahan yang menyebabkan makanan tersebut terindikasi beracun.
"Menu itu sebenarnya tidak masalah. Nah, ini yang sedang kita kaji, di mana titik yang mengakibatkan siswa keracunan. Kita harus hati-hati betul menyimpulkan temuan di Muaro Jambi ini karena berdampak pada status dapur SPPG," sebutnya.
BACA JUGA:Hilal Tidak Terlihat di Jambi, Kakanwil Kemenag: Awal Ramadan Tunggu Sidang Isbat
Selama proses investigasi berjalan, operasional Satuan Pelayanan Penanggulangan Gizi (SPPG) di Sengeti, Muaro Jambi, dihentikan total. Johansyah memastikan penutupan ini berlaku hingga ada keputusan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN).
"Sementara kita stop dulu. Dapur tersebut melayani sekitar 3.000 siswa sekolah. Sampai nanti hasil lab keluar dan dilaporkan ke Pusat, kita menunggu keputusan Pusat seperti apa," jelas Johansyah.
BACA JUGA:Kemenag: Posisi Hilal Tak Penuhi Kriteria MABIMS, Awal Ramadan Kamis 19 Februari 2026
Ia juga telah menghadap langsung Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, untuk melaporkan situasi terkini. Nantinya, hasil uji laboratorium akan menjadi dasar bagi BGN untuk menentukan tingkat pelanggaran, apakah termasuk kategori ringan, sedang, atau berat, serta sanksi yang akan diberikan kepada pengelola dapur.
"Semua keputusan ada di Badan Gizi Nasional. Satgas Provinsi dan Kabupaten hanya membantu menyampaikan hasil temuan di lapangan," sebutnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



