MITSUBISHI JANUARI 2026

Belajar Menggerakkan Pikiran: Praktik Baik STEAM dari Jembatan Mas

Belajar Menggerakkan Pikiran: Praktik Baik STEAM dari Jembatan Mas

Belajar Menggerakkan Pikiran: Praktik Baik STEAM dari Jembatan Mas --

JAMBIEKSPRES.CO.ID- Di SDN 20/I Jembatan Mas, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batang Hari, Jambi, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) tidak berhenti pada hafalan konsep. Di ruang kelas sederhana itu, siswa kelas VI justru diajak memahami sistem gerak manusia melalui pengalaman langsung—membangun, mencoba, dan merefleksikan.

Adalah Hedly Nasril, S.Pd.SD, guru kelas yang telah mengabdi sejak 2009, yang merancang pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics). Selama tiga jam pelajaran, siswa belajar tentang tulang, otot, dan sendi dengan membuat replica tangan manusia dari bahan bekas.


Hedly Nasril, S.Pd.SD--

BACA JUGA:Disematkan Mitsubishi Connect, Pemilik Destinator Bisa 'Kendalikan' Kendaraan Jarak Jauh

Pembelajaran diawali dengan doa bersama, dilanjutkan pertanyaan pemantik seputar cara kerja sistem gerak pada tubuh manusia. Untuk mengaktifkan perhatian siswa, Hedly mengajak mereka berdiri sejenak dan menyanyikan lagu Lima Jari. Dari aktivitas sederhana itu, siswa diajak mengamati gerakan tangan mereka sendiri sebelum menyaksikan video pembelajaran tentang pembuatan replika tangan.

BACA JUGA: Lima Puskesmas di Sungai Penuh Sudah Terima Pasien Rawat Inap

Usai menonton, diskusi kelas berlangsung. Siswa saling bertanya dan menanggapi, mencoba menghubungkan tayangan video dengan fungsi tangan dalam kehidupan sehari-hari. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) kemudian dibagikan. Dalam kelompok heterogen, siswa menyiapkan alat dan bahan dari barang bekas, seperti sedotan, benang, dan karton, untuk membangun model sistem gerak tangan.

BACA JUGA:Pukul Gong, Wabup A. Khafidh Resmikan Al-Munawarroh Fest 2026

“Anak-anak tidak hanya membuat produk. Mereka belajar berpikir,” kata Hedly. Dalam proyek ini, unsur sains terlihat dari pemahaman tentang kerja otot dan sendi. Aspek teknologi hadir melalui pemilihan alat dan Teknik sederhana. Engineering tampak saat siswa mendesain dan mengonstruksi model, sementara seni tercermin dari estetika dan kreativitas warna. Semua proses itu diarahkan pada satu tujuan utama: melatih nalar dan cara berpikir siswa.

BACA JUGA:Bupati Muaro Jambi Pimpin Rakor SKPD di Lingkungan Pemerintah Kab. Muaro Jambi

Pembelajaran Aktif dan Nilai Karakter

Sejak terlibat sebagai fasilitator daerah Tanoto Foundation pada 2018, Hedly meyakini bahwa pembelajaran aktif harus menjadi ruh pendidikan, apa pun kurikulum yang berlaku. Baginya, mengalami, interaksi, komunikasi dan refleksi (MIKiR) adalah muara dari seluruh proses belajar.

Pendekatan tersebut tidak hanya menguatkan pemahaman konsep, tetapi juga menanamkan nilai karakter. Penggunaan bahan bekas menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Pembagian tugas melatih tanggung jawab dan kemandirian. Kerja kelompok mengasah kepercayaan, gotong royong, dan kemampuan berpikir kritis. Nilai religius pun dihadirkan melalui pembiasaan berdoa sebelum memulai kegiatan.

Di akhir pembelajaran, setiap kelompok mempresentasikan hasil proyek mereka. Siswa diminta menyimpulkan apa yang telah dipelajari dan mengaitkannya dengan mekanisme gerak tangan manusia. Proses ini sekaligus menjadi bagian dari asesmen pengetahuan, keterampilan proses sains, dan kemampuan komunikasi siswa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: