WALHI: Persoalan Tata Kelola SDA Pemicu Tragedi PETI di Jambi
Suasana lokasi peristiwa longsor tambang PETI di Kabupaten Sarolangun Jambi, Rabu (21/1/2026). ANTARA/HO-Walhi Jambi--
JAMBI, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) menilai persoalan tata kelola sumber daya alam (SDA) menjadi salah satu penyebab pemicu tragedi delapan orang meninggal dunia dalam aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, JAMBI.
BACA JUGA:Solikin Usung Konsep
“Ketika aktivitas pertambangan ilegal dibiarkan terus berlangsung, maka potensi korban jiwa hanyalah soal waktu. Tragedi ini menunjukkan kegagalan negara dalam mencegah praktik berbahaya yang telah lama diketahui publik," kata Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jambi, Oscar Anugrah di Jambi, Rabu, dikutip dari antara.
BACA JUGA:Update Harga Emas di Pegadaian Jumat 23 Januari 2026, Hari Ini Kompak Anjlok
Menurut Oscar, korban jiwa akibat Peti tidak dapat dilepaskan dari persoalan tata kelola sumber daya alam yang lemah dan penegakan hukum yang tidak konsisten.
WALHI menilai selama ini penanganan pertambangan ilegal cenderung bersifat sporadis dan tidak menyentuh akar persoalan.
Menurut dia, penertiban yang dilakukan dari waktu ke waktu, selama ini tidak diikuti dengan pengusutan aktor-aktor yang memiliki peran penting dalam keberlangsungan tambang ilegal, termasuk pihak-pihak yang memperoleh keuntungan ekonomi dari aktivitas tersebut.
Untuk itu, peristiwa yang merenggut nyawa delapan penambang itu tidak boleh dipahami semata sebagai kecelakaan kerja.
Menurut dia, longsor di lokasi Peti merupakan risiko yang sejak awal melekat pada aktivitas tambang ilegal yang dilakukan tanpa standar keselamatan, tanpa kajian lingkungan, serta berada di luar sistem pengawasan negara.
"Negara untuk menghadirkan kebijakan yang adil bagi masyarakat, dengan menyediakan alternatif mata pencaharian yang aman, berkelanjutan, dan tidak membahayakan keselamatan maupun lingkungan," tutup Oscar.
Peristiwa delapan penambang meninggal dunia dari belasan yang tertimbun tanah longsor di pertambangan sistem penggalian hingga kedalaman tertentu (lobang jarum) terjadi pada Senin petang (19/1).
Hingga Rabu, tim gabungan berhasil mengevaluasi 12 orang, delapan dalam kondisi meninggal, empat alami luka-luka.
Korban umumnya berasal dari Dusun Mengkadai dan desa sekitar. Proses evakuasi untuk memastikan tidak ada lagi korban yang tertimbun masih terus dilakukan.(ant)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



