DISWAY BARU

2026 Outlook Emas di Tengah Badai Politik

2026 Outlook Emas di Tengah Badai Politik

Volatilitas harga emas di Indonesia dalam satu tahun terakhir yang dapat dipantau dari aplikasi digital tabungan emas. ANTARA/Nabila Charisty--

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO.ID - Baru saja menginjakkan kaki di Januari 2026, emas sudah menunjukkan kemilaunya melalui pergerakan pasar.

Dikutip dari World Gold Council (Organisasi Emas Dunia) pada (14/1) memperlihatkan, emas telah menyentuh USD4,619.16 per troy ons. Lonjakan ini seakan mengirim pesan pada dunia bahwa ketika kebijakan ekonomi semakin sulit ditebak, emas menjadi satu-satunya instrumen yang tidak pernah kehilangan kekuatan dari badai ekonomi dunia.

BACA JUGA:IHSG Cetak Rekor Tertinggi... Ini Penyebabnya...

Kejutan sebenarnya terjadi pada pukul 07.55 WIB, di mana harga sempat menembus level psikologis USD4.600, sebuah angka yang sebelumnya dianggap sebagai target akhir tahun, tapi kini sudah tercapai hanya dalam dua minggu pertama Januari.

BACA JUGA:Waspada! Sejumlah Perairan Sumut Masih Berpotensi Diterjang Gelombang Tinggi

Menurut World Gold Council (Organisasi Emas Dunia), Lonjakan dramatis ini terjadi karena efek operasi militer AS yang mengguncang stabilitas Amerika Latin, setelah penangkapan mantan Presiden Maduro oleh pasukan AS. Ketidakpastian mengenai pasokan minyak dan risiko konflik regional membuat investor panik dan berlindung di emas.

Melesatnya harga emas juga terpengaruh oleh keputusan pemerintahan Presiden Trump yang membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve The Fed, Jerome Powell yang terjadi pada Selasa (13/1). Ketidakpastian mengenai siapa yang mengontrol kebijakan moneter AS pun memicu pelemahan Dolar dan membuat emas kian berkilau.

Jika dilihat dari performa sepanjang tahun 2025, emas memberikan keuntungan (return) yang sangat kontras dibandingkan dolar. Emas mencatatkan kenaikan lebih dari 60 persen dalam setahun dan memecahkan rekor lebih dari 50 kali. Hal ini mengukuhkan posisinya sebagai aset utama dalam portofolio global.

Di lain pihak, Dolar AS justru mengalami tren pelemahan. Nilai Dolar sangat bergantung pada kebijakan suku bunga The Fed yang kini sedang diguncang prahara politik. Saat inflasi tinggi dan kepercayaan terhadap institusi keuangan AS menurun, daya beli Dolar justru merosot tajam, sedangkan harga emas secara naluriah melonjak untuk mengompensasi hilangnya nilai mata uang kertas tersebut.

Bagi investor di Indonesia, lonjakan harga emas dunia juga telah mengerek harga emas domestik (Antam) ke kisaran Rp2,6 juta per gram. Sampai dengan Rabu (14/1) harga emas di Indonesia juga mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Harga belie mas Antam melonjak Rp13.000 per gram, dari posisi Rp2.652.000 menjadi Rp2.665.000 per gram.

Dari gambaran tersebut membuktikan bahwa di tengah dunia yang makin tidak menentu, emas bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi jaring pengaman nilai kekayaan.

Hal tersebut pun diperkuat oleh pernyataan Kepala Divisi Bisnis Bullion PT Pegadaian, Kadek Eva Suputra kepada ANTARA melalui Podcast ANTARA Close Up. Kadek menyebut, di tengah ketidakpastian geopolitik, emas justru menjadi instrumen keuangan yang sangat kuat, bahkan bisa melindungi aset kekayaan individu. 

“Satu kalau kami lihat adalah memang kepercayaan terhadap emas. Tadi benar-benar liquid yang kedua sebenarnya geopolitik saat ini membuat emas di tengah ketidakpastian itu justru sangat kuat gitu ya. Saya balik lagi ke data misalnya 20 tahun. Kita kan di 20 tahun terakhir atau jangan sampai 20 tahun lah. Mungkin di 5 tahun terakhir saja geopolitik kita tidak bisa tebak gitu ya. Nah disanalah kekuatan emas tersebut,” kata Bli Kadek sapaan akrabnya, dikutip dari antara. 

Emas telah bertransformasi lebih dari sekadar pilihan investasi yang kini menjadi kebutuhan pokok. Namun, yang membedakan saat ini dengan tahun-tahun sbeelumnya adalah hadirnya Bank Emas (Bullion Bank) di tanah air. Jika dulu emas hanya diam di dalam brankas atau safety deposit box, kini keberadaan Bank Emas mengubah segalanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: