Dari Jambi, Anak Sopir Truk Ini Berhasil Melampaui Mimpinya Hingga Kuliah di UGM
Nevsia Carlina, Mahasiswa S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM)-Foto: Istimewa-
JAMBI, JAMBIEKSPRES.DISWAY.ID - Dari Jambi, Nevsia Carlina, anak seorang sopir truk ini berhasil melampaui mimpinya, hingga berhasil menempuh pendidikan, kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Berikut petikan tulisan yang dirangkai sendiri oleh Nevsia tentang perjalanan hidupnya sebagai anak yang hidup dalam keterbatasan ekonomi tapi gigih memperjuangkan pendidikannya.
Menembus Batas Mimpi, Menapaki Dunia Pendidikan.
Perjalanan panjang diawali dengan sebuah impian untuk menempuh pendidikan tinggi.
Tatkala, Ayah saya yang bekerja sebagai sopir truk dan Ibu saya sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT), perlu mempertimbangkan kembali atas kelulusan SNMPTN saya di Universitas Sriwijaya pada tahun 2017 lalu.
Mengingat biaya menjadi mahasiswa rantauan tidaklah murah, yang di mana biaya hidup saya masih sepenuhnya ditanggung oleh orang tua, sehingga mereka akan membiayai "dua dapur" sekaligus.
Saya yang berdomisili di Kota Jambi juga tidak memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP), Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), atau sejenisnya, sehingga tidak layak untuk mendaftar Beasiswa Bidikmisi.
Memang terkesan keras kepala, tetapi bukan berarti tidak bertanggung jawab atas diri sendiri.
Sebelum perkuliahan dimulai, saya bekerja di salah satu toko pakaian di pasar. Hasil yang diperoleh pun saya tabung untuk membeli kebutuhan kos.
Demi menekan pengeluaran bulanan di tanah rantauan nantinya, saya tinggal di satu kamar kos bersama tiga teman lainnya. Memang terasa sempit, tetapi ini adalah bagian dari tanggung jawab atas pilihan yang diambil.
Berbagai upaya dilakukan selama menempuh pendidikan Sarjana di Jurusan Ilmu Administrasi Publik, Universitas Sriwijaya.
Saya bergabung menjadi ojek kampus, berjualan pakaian dan sepatu yang dipromosikan melalui media sosial Instagram dan Facebook. Di sela-sela waktu, saya bersama dua teman kelas lainnya membangun usaha sewa alat outdoor, yang di mana kami memperoleh Dana Hibah Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) Universitas Sriwijaya.
Rasanya cukup sulit menyelaraskan waktu antara kuliah dan bekerja. Di semester empat, kinerja belajar saya berkurang sehingga berdampak pada menurunnya IPK.
Tak ingin melupakan tujuan utama merantau adalah berkuliah, saya mencoba kembali untuk mengelola waktu yang ada. Beberapa upaya saya lakukan, seperti mengurangi jam bekerja dan memaksimalkan hard skill maupun soft skill, baik itu menulis artikel, mengikuti lomba menulis cerita pendek dan puisi, serta belajar Bahasa Inggris, yang di mana sekaligus menjadi modal pasca studi nantinya.
Tiba di penghujung perkuliahan, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan berfokus pada Kuliah Kerja Administrasi (KKA) di salah satu instansi pemerintah dan mengerjakan skripsi.
Saya berusaha memaksimalkan komunikasi dan membangun relasi dengan Dosen Pembimbing KKA dan skripsi. Sekilas menyadari bahwa skill dan IPK saja tidak cukup, pentingnya mengembangkan jaringan dengan orang-orang yang berpengaruh pula. Setelahnya, impian saya semakin bertumbuh, yaitu ingin menjadi seorang dosen.
Alhamdulillah, dari seluruh proses dan rintangan yang dihadapi, saya memperoleh predikat cum laude, sekaligus dipercaya oleh kedua Dosen Pembimbing KKA dan Skripsi untuk menjadi Asisten Peneliti dan Relawan Editor Jurnal di Jurusan Ilmu Administrasi Publik, Universitas Sriwijaya.
Tidak hanya itu, saya juga dipercaya untuk bekerja sebagai tenaga kontrak di salah satu instansi pemerintah. Namun, tak lupa terhadap mimpi besar saya untuk menjadi seorang dosen, yang di mana saya perlu menempuh pendidikan magister terlebih dahulu.
Benih-benih impian terus saya tanam. Saya berkutat untuk menempuh pendidikan magister di luar negeri. Tentunya, ada banyak dokumen yang harus dipersiapkan, seperti IELTS, dan lain-lain.
Saya Menapaki UGM ketika Ayah Sudah Tiada
Namun, tibalah di satu titik yang membuat saya benar-benar terpuruk. Pada Bulan Februari 2023, Ayah saya meninggal dunia. Semua harapan yang tertanam pun hampir pupus dan lalu lalang.
Tatkala, menjadi satu-satunya anak yang bekerja, ada Ibu dan adik laki-laki yang kebutuhan hidup dan sekolahnya harus dipenuhi. Tentu, saya kubur dalam-dalam impian saya untuk melanjutkan studi magister.
Tiga bulan pasca meninggalnya Ayah, Dosen Pembimbing KKA saya kembali memberikan motivasi, salah satunya untuk melanjutkan studi. Ya, impian yang sudah terkubur dalam-dalam itu ternyata dikais kembali.
Mengingat kondisi kala itu, saya mencoba untuk menurunkan ego dengan memilih kampus di dalam negeri. Selain itu, beliau (Dosen Pembimbing KKA) menawarkan bantuan untuk membiayai TOEFL. Beliau juga mendorong saya untuk mendaftar salah satu beasiswa bergengsi di negeri ini.
Dengan mempertimbangkan segala hal, baik itu finansial keluarga dan masa depan, saya mendaftar Beasiswa LPDP dan Program Studi Magister Ilmu Administrasi Publik, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Alhamdulillah, berkat do'a, upaya, dan support dari orang-orang sekitar, saya memperoleh beasiswa tersebut dan melanjutkan studi magister sejak Bulan Februari 2024 lalu, yang di mana saat ini saya sedang menempuh semester tiga.
Tidak berhenti sampai disini, masih banyak langkah ke depannya yang perlu diperjuangkan dalam menapaki tangga pendidikan.
Sebuah Refleksi
Cerita singkat ini saya tulis bukan untuk menjadi pembanding, melainkan sebuah refleksi bagi pembelajar masa kini.
Perlu diketahui, sekolah bukan diperuntukkan orang-orang yang beruntung, tetapi diperoleh orang-orang yang berjuang. Bahwasanya, benih-benih harapan tidak dapat tumbuh apabila tidak dirawat dengan baik. Perlu adanya perjuangan dalam merawat harapan untuk kian tumbuh dan dapat dituai, seperti halnya pendidikan.
Saya percaya, di luar sana, ada banyak orang yang mimpinya jauh lebih tinggi, dan bahkan ada banyak orang yang rintangannya jauh lebih pahit.
Perjuangan dalam menempuh pendidikan mengajarkan bahwa sebuah harapan tidak hanya dijadikan sebatas angan, tetapi perlu kerja keras untuk mematahkan ketidakmungkinan.
Kita, sebagai generasi penerus bangsa, juga berperan sebagai penggerak keberlanjutan pendidikan demi masa depan yang cerah. Baik itu guru, dosen, pelajar, masyarakat, pemerintah, dan seluruh pihak manapun, kita semua adalah satu-kesatuan yang memiliki peran masing-masing untuk menciptakan kecerdasan bangsa.
Benih-benih harapan justru kian bertumbuh seiring dengan urgensi pendidikan hingga saat ini. Berbagai permasalahan seperti keterbatasan akses, kesenjangan pendidikan, kualitas kurikulum dan tenaga pendidik, serta masih banyak lagi hal-hal yang perlu diperbaiki dan menjadi perhatian khusus bagi pemerintah.
Namun, kemajuan pendidikan juga dapat terhambat apabila penuntasan masalah tidak dibenahi dari akarnya, yaitu kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan.
Maka dari itu, masih terasa hangat suasana Hari Pendidikan Nasional, bukan hanya menjadi sekedar peringatan, tetapi refleksi bersama untuk merenungkan kembali betapa ironisnya masa depan bangsa apabila tanpa pendidikan yang kokoh, komitmen antar generasi, dan pembenahan yang visioner.
Bahwasanya, semua orang berhak sekolah, dan semua orang berhak menembus batas mimpi dalam menapaki dunia pendidikan. (*)
Tentang Penulis
Nevsia Carlina lahir di Kota Jambi, 26 Januari 2000. Ia merupakan lulusan S1 Ilmu Administrasi Publik Universitas Sriwijaya dan saat ini sedang melanjutkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada melalui dukungan Beasiswa LPDP. Nevsia aktif dalam kegiatan akademis dan sosial, serta sangat terbuka bagi teman-teman yang ingin bertanya atau berdiskusi seputar dunia akademik dan pendidikan melalui Instagram @nevsiacarlina atau e-mail [email protected].
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



